Nasional

Investor Cermati Hilirisasi Mineral sebagai Penopang Prospek Saham Tambang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prospek saham-saham tambang pelat merah tidak hanya ditopang oleh ekspektasi kinerja keuangan semester I 2026, tetapi juga perkembangan proyek hilirisasi mineral yang dinilai menjadi faktor penting bagi...

31 Juli 2026, pukul 07:40 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prospek saham-saham tambang pelat merah tidak hanya ditopang oleh ekspektasi kinerja keuangan semester I 2026, tetapi juga perkembangan proyek hilirisasi mineral yang dinilai menjadi faktor penting bagi pertumbuhan jangka panjang. Investor kini mencermati sejauh mana percepatan proyek strategis tersebut mampu memperkuat fundamental emiten dan menopang pergerakan saham pada paruh kedua tahun ini.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan investor mulai menaruh perhatian pada perkembangan hilirisasi mineral emiten-emiten di bawah naungan MIND ID. Menurut dia, proyek hilirisasi, arah belanja modal, serta prospek permintaan nikel dan batu bara akan menjadi faktor yang menentukan prospek saham-saham tambang pelat merah ke depan.

Baca Juga

"Apabila realisasi kinerja mampu melampaui ekspektasi pasar, peluang penguatan harga saham masih terbuka," kata Nafan di Jakarta, dikutip pada Jumat (31/7/2026).

Menurut dia, sentimen laporan keuangan kuartal II 2026 tetap menjadi katalis utama pergerakan saham sektor tambang. Namun, keberlanjutan proyek hilirisasi akan menjadi penopang penting bagi prospek jangka panjang emiten karena mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat daya saing perusahaan.

Salah satu proyek strategis yang telah berjalan ialah fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit-alumina-aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek tersebut dikembangkan MIND ID bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berperan sebagai pemasok energi.

Fasilitas terintegrasi tersebut terdiri atas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II berkapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun serta smelter aluminium baru berkapasitas 600 ribu metrik ton aluminium per tahun. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan memperkuat kemandirian industri aluminium nasional dari hulu hingga hilir.

Di sektor nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga terus mengakselerasi pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek tersebut telah memasuki fase penting dengan kedatangan komponen utama autoclave yang menjadi inti proses pengolahan bijih nikel limonit.

Pabrik HPAL Sambalagi dibangun dalam tiga jalur produksi, yakni Line A, B, dan C, dengan target mencapai first mechanical completion pada akhir 2026. Proyek ini dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat hilirisasi nikel sekaligus mendukung pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Di sisi lain, riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memproyeksikan pendapatan emiten sektor pertambangan logam pada kuartal II 2026 mencapai 4,5 miliar dolar AS atau tumbuh 12 persen secara kuartalan (quarter on quarter/qoq) dan 38 persen secara tahunan (year on year/yoy). Peningkatan tersebut dinilai lebih banyak ditopang oleh faktor harga jual, waktu penjualan, pergerakan persediaan, serta bauran produk dibandingkan pemulihan volume produksi secara menyeluruh.

Sebagai modal awal, sejumlah emiten tambang di bawah naungan MIND ID telah mencatat pertumbuhan laba yang solid pada kuartal I 2026. ANTM membukukan laba sebesar Rp 3,66 triliun, INCO mencatat lonjakan laba bersih 100 persen menjadi 43,6 juta dolar AS, TINS membukukan laba usaha sebesar Rp 1,88 triliun, sedangkan PTBA meraih laba tahun berjalan sebesar Rp 801,79 miliar atau meningkat 105 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lihat di situs asli

Berita terkait