REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON-Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance, Kamis (19/6/2026), melontarkan kritik keras kepada sejumlah anggota pemerintahan Israel yang menyerang nota kesepahaman yang dicapai dengan Iran.
Dia bahkan menegaskan bahwa Presiden Donald Trump saat ini merupakan satu-satunya presiden yang masih bersimpati kepada Israel.
Baca Juga- Mengapa Washington dan Teheran Percepat Teken Kesepakatan Sebelum Jadwal Resmi?
- Ini yang Terjadi dalam Pemerintahan Israel Setelah Kesepakatan Damai AS dan Iran
- Sapi Merah dalam Kepercayaan Yahudi Telah Lahir, Ritual Penghancuran Al Aqsa Semakin Dekat?
Sementara itu, di Tel Aviv, harian Yedioth Ahronoth mengutip sumber-sumber Israel yang mengetahui perkembangan tersebut dan menyebut bahwa kalangan politik Israel tengah diliputi keterkejutan menyusul pernyataan Wakil Presiden Amerika itu.
Dalam konferensi pers di Washington, Vance mengatakan bahwa jika dirinya berada di posisi para pejabat Israel tersebut, dia tidak akan sampai menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih tersisa bagi mereka di seluruh dunia.
Dia mengingatkan bahwa dua pertiga persenjataan yang melindungi Israel selama beberapa bulan terakhir diproduksi dan dibiayai oleh Amerika Serikat.
"Pesan kami kepada Israel dan semua pihak adalah bahwa kami ingin proses perdamaian ini berjalan demi kepentingan mereka," ujar Vance, dikutip Aljazeera, Jumat (19/6/2026).
Dia juga mengkritik serangan Israel ke Lebanon yang, menurutnya, kerap terjadi setiap kali ada kemajuan menuju tercapainya sebuah kesepakatan.
Vance menyinggung banyaknya korban yang tidak memiliki hubungan dengan Hizbullah akibat serangan di Beirut.
Menurutnya, Israel memang berhak mempertahankan diri, tetapi pada saat yang sama juga harus menghormati proses perdamaian yang sedang berlangsung.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika