REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memasuki September, salah satu pertarungan paling mencemaskan bagi Partai Republik justru muncul di Texas, negara bagian yang selama puluhan tahun menjadi benteng mereka. Kandidat Senat pilihan Presiden Donald Trump, Ken Paxton, tertinggal tiga poin dari kandidat Demokrat James Talarico dalam survei terbaru University of Texas/Texas Politics Project, sementara bantuan besar yang diharapkan dari mesin politik Trump belum juga mengalir ke pertarungan tersebut.
Survei University of Texas/Texas Politics Project yang dirilis Senin, 24 Agustus 2026, mencatat Talarico memperoleh dukungan 42 persen dan Paxton 39 persen. Kandidat Libertarian Ted Brown memperoleh 3 persen, sementara 14 persen pemilih belum menentukan pilihan, dengan margin kesalahan survei plus-minus 2,83 poin.
Baca Juga- Cak Imin Ucapkan Selamat Berjuang ke Gus Kikin, Ketum PBNU 2026-2031
- Uji Coba Tabung CNG 3 Kg Mulai Libatkan Masyarakat Internal Lemigas
- Pemkot Makassar dan BPN Perkuat Sinergi Demi Kepastian Hukum Aset Daerah
Angka itu berarti keunggulan Talarico belum dapat dibaca sebagai keunggulan mutlak. Survei Emerson College pada Agustus, misalnya, menempatkan Paxton 47 persen berbanding Talarico 46 persen, sedangkan survei Bush School/Recon MR sebelumnya memberi Talarico keunggulan empat poin. Gambaran keseluruhannya adalah persaingan yang sangat rapat di negara bagian yang seharusnya relatif aman bagi Republik.
The Wall Street Journal dalam laporan pada Senin, 31 Agustus 2026, juga menggambarkan Paxton berada dalam masalah politik di Texas, sementara Talarico berhasil membangun kampanye yang jauh lebih agresif dan unggul tipis dalam salah satu survei terbaru. Pergeseran tersebut mencolok karena belum ada kandidat Demokrat yang memenangkan pemilihan Senat AS di Texas sejak Lloyd Bentsen pada 1988.
Alarm itu kini berbunyi semakin keras karena uang kampanye mulai memainkan peran besar. CNN melaporkan pada Ahad, 30 Agustus 2026, Talarico dan kelompok Demokrat telah membelanjakan sekitar 31,5 juta dolar AS (Rp555 miliar) untuk iklan sejak Juni, sedangkan pengeluaran kubu Republik hanya sekitar 4,7 juta dolar AS (Rp83 miliar).
Perbandingannya hampir tujuh berbanding satu. Dominasi tersebut membuat Talarico hampir terus-menerus hadir di layar televisi dan ruang digital pemilih Texas pada saat Paxton masih menunggu dukungan iklan besar dari luar kampanyenya.
Di sinilah persoalan bagi Trump menjadi lebih rumit. MAGA Inc., kelompok politik yang menjadi salah satu mesin utama pendukung Trump, memiliki uang tunai 403,45 juta dolar AS (Rp7,11 triliun) per 31 Juli 2026 berdasarkan laporan resmi Federal Election Commission (FEC), tetapi CNN mengatakan kelompok itu belum mengeluarkan uang untuk pertarungan Senat Texas ketika laporannya diterbitkan pada Ahad, 30 Agustus 2026. Besarnya cadangan itu membuat penantian Paxton semakin menjadi sorotan karena kursi Texas kini tidak lagi dipandang sebagai kemenangan otomatis bagi Partai Republik.
Republik Sudah Memperingatkan Trump
Situasi tersebut sebenarnya telah diperingatkan sebelum Paxton memenangkan nominasi Republik. CNN melaporkan para pemimpin Republik di Senat sempat meminta Trump tidak mendukung Paxton dan memilih senator petahana John Cornyn karena mereka menilai Cornyn akan jauh lebih mudah dan lebih murah dipertahankan dalam pemilihan umum.
Trump memilih jalan berbeda. Ia memberikan dukungan penuh kepada Paxton pada 19 Mei 2026, sepekan menjelang putaran kedua pemilihan pendahuluan Republik, meskipun Cornyn telah memperingatkan bahwa Paxton dapat membuat kursi Senat Texas lebih rentan terhadap Demokrat.
Menurut laporan CNN, pesan yang disampaikan kepada Trump saat itu sederhana: jika ia bersikeras menjadikan Paxton calon Republik, operasi politik Trump harus bersiap mengeluarkan uang besar untuk membantunya dalam pemilu November. Kini, lebih dari tiga bulan kemudian, skenario yang dikhawatirkan para pemimpin Republik mulai terlihat.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika