REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesepian tidak lagi sekadar dipandang sebagai masalah emosional. Dokter mengingatkan, kesepian kronis dan isolasi sosial dapat berdampak serius terhadap kesehatan otak, bahkan bahayanya hampir sama seperti merokok.
Dokter spesialis saraf, dr Sreenivas UM, mengatakan bahwa kesepian semakin banyak dialami oleh masyarakat di era digital. Kesepian juga telah diakui sebagai faktor risiko penyakit kognitif seperti demensia.
Baca Juga- IYCTC: Iklan Rokok Ilegal Kepung Sekolah di Jakarta
- KPAI Ungkap Lonjakan Drastis Jumlah Perokok Anak di Indonesia
- Psikolog Bedah Pola Asuh 'Anak Emas' Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan
"Studi terbaru menunjukkan bahwa kesepian dapat menghasilkan perubahan struktural di otak, khususnya di wilayah yang terlibat dalam memori, penalaran, berpikir, dan pengambilan keputusan," kata dia dikutip dari Hindustan Times, Kamis (25/6/2026).
Sreenivas mengutip hasil metaanalisis yang melibatkan sekitar tiga juta orang dan menemukan bahwa kesepian kronis meningkatkan risiko kematian dini hingga 26 persen. Menurutnya, temuan tersebut menempatkan kesepian sebagai ancaman kesehatan yang hampir setara dengan obesitas dan kurangnya aktivitas fisik, serta mendekati risiko yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok.
Kesepian (ilustrasi). - (Dok. Freepik)
"Hal ini menjadikan kesepian hampir sama berbahayanya dengan obesitas dan kurangnya aktivitas fisik, serta mendekati risiko yang terkait dengan merokok," kata dia.
Selain itu, kesepian juga dapat berdampak pada kesehatan neurologis melalui perubahan gaya hidup. Orang yang merasa terisolasi secara sosial cenderung mengalami gangguan tidur, kurang bergerak, memiliki pola makan tidak sehat, atau mengalami ketergantungan terhadap zat tertentu. Seluruh faktor tersebut diketahui berkaitan dengan kesehatan otak yang lebih buruk.
Dampaknya bahkan bisa lebih terasa pada orang yang hidup dengan kondisi neurologis seperti strok, epilepsi, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, atau demensia. Menurut dr Sreenivas, isolasi sosial dapat memperburuk gejala, memperlambat pemulihan, dan meningkatkan risiko kekambuhan meski pasien tetap menjalani pengobatan.
Penelitian ilmiah menemukan bahwa kesepian mengaktifkan sejumlah area otak yang sama dengan area yang terlibat dalam rasa sakit fisik. Temuan tersebut memberikan penjelasan ilmiah mengapa penderitaan emosional sering kali terasa seperti rasa sakit yang nyata secara fisik,
"Pencitraan fungsional telah menunjukkan bahwa area yang dipengaruhi oleh kesepian mirip dengan area yang diaktifkan selama nyeri fisik, memberikan dasar ilmiah untuk istilah 'sakit hati'," kata dr Sreenivas.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika