REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Candaan tarik kursi kembali memakan korban. Kali ini, seorang siswi SMA berinisial Cipa (17 tahun) asal Pariaman, Sumatera Barat, dilaporkan meninggal dunia pada Agustus 2026 akibat cedera parah setelah menjadi korban candaan tarik kursi oleh temannya di sekolah.
Menanggapi hal ini, dokter sekaligus sekretaris jenderal pengurus pusat Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI), dr Putro S Muhammad, mengatakan aksi menarik kursi saat seseorang hendak duduk sangat berbahaya karena dapat menyebabkan cedera serius, termasuk pada tulang belakang. Cedera tulang belakang bisa fatal karena di dalamnya terdapat saraf tulang belakang yang merupakan jalur utama saraf dari otak menuju seluruh tubuh. Saraf tersebut juga berperan dalam mengatur fungsi penting, termasuk pernapasan dan detak jantung.
Baca Juga- Gula Darah Naik Meski Belum Makan? Ini Alasan Mengapa Skip Sarapan Justru Berbahaya
- Main Medsos Lebih dari 2,5 Jam Sehari Berisiko Picu Depresi
- Pulau Jeju, dari Destinasi Liburan Romantis Kini Dihantui Ketakutan
"Ketika terjadi patahan atau pergeseran ruas tulang akibat cedera, maka bisa menekan atau merusak saraf tulang belakang. Kondisi ini bisa menyebabkan kelumpuhan permanen, gangguan napas, hingga kematian," kata dr Putro saat dihubungi Republika, Jumat (28/8/2026).
Bahaya akibat jatuh juga bukan persoalan kecil. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 684 ribu kematian akibat jatuh setiap tahun di seluruh dunia. Jatuh menjadi penyebab kematian terbesar kedua akibat cedera yang tidak disengaja. Lebih dari 80 persen kematian tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk indonesia.
Dokter Putro mengingatkan pentingnya penanganan dini yang tepat untuk mencegah keparahan cedera. Menurut dia, setelah korban jatuh, jangan langsung menggerakan tubuhnya. Pastikan dahulu posisi kepala dan leher tetap sejajar untuk mencegah cedera bertambah parah.
"Penanganan dini itu sangat krusial. Penanganan yang tepat adalah jangan gerakkan korban, jaga kepala dan leher tetap sejajar, segera hubungi bantuan medis (119), serta jangan beri makan atau minum," ujar dr Putro.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika