Nasional

Jelang Muktamar NU, PWNU Sumbar Ungkap Eks Mendiknas Jadi Figur Caketum yang Diperhitungkan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU mulai mengemuka. Ada sejumlah nama tokoh NU yang muncul, diantaranya KH Yahya Cholil Staquf (Gus...

12 Agustus 2026, pukul 07:33 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU mulai mengemuka. Ada sejumlah nama tokoh NU yang muncul, diantaranya KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH Zulfa Mustofa, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Prof KH Nasaruddin Umar, KH Imam Jazuli, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH Marsudi Syuhud, dan Prof Mohammad Nuh. 

Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Barat, Prof Ganefri mengatakan, munculnya sejumlah nama dalam bursa calon Ketua Umum PBNU merupakan dinamika yang wajar dalam organisasi sebesar NU. 

Baca Juga

"Bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35 NU merupakan bagian dari dinamika organisasi yang wajar," ujarnya saat dihubungi Republika, Rabu (12/8/2026). 

Namun, Prof Ganefri menilai, Mantan Menteri Pendidikan Nasional, Prof Mohammad Nuh merupakan salah satu figur yang layak diperhitungkan untuk memimpin PBNU. Dia menyebut pengalaman Prof Nuh di pemerintahan, dunia pendidikan, dan organisasi menjadi kombinasi yang penting untuk memimpin organisasi sebesar NU.

"Prof Muhammad Nuh menurut saya merupakan salah satu figur yang menarik untuk diperhitungkan. Beliau memiliki pengalaman yang relatif lengkap, baik di pemerintahan, dunia pendidikan, maupun organisasi," ucap Ganefri.

Rektor UNP Prof. Ganefri, Ph.D. - (dok. Istimewa)

Ia menegaskan, NU membutuhkan sosok pemimpin yang tidak sekadar memiliki popularitas dan jaringan luas. Lebih dari itu, Ketua Umum PBNU mendatang harus memiliki kapasitas kepemimpinan, integritas, pengalaman organisasi, kemampuan mengelola keragaman, serta visi yang kuat terhadap masa depan NU.

Menurut dia, tantangan NU ke depan semakin kompleks. NU tidak hanya berhadapan dengan persoalan keagamaan dan sosial, tetapi juga pendidikan, ekonomi, teknologi, perubahan demografi, lingkungan, hingga dinamika kebangsaan dan global. "Karena itu, Ketua Umum PBNU ke depan harus mampu menerjemahkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah ke dalam kebijakan dan program yang relevan dengan zaman,”kata dia.

Selain itu, Prof Ganefri menilai pemimpin PBNU juga harus mampu menjadi perekat di tengah keragaman. Sosok tersebut, kata dia, harus mampu menghadirkan kepemimpinan yang teduh dan inklusif, tetapi tetap berani mengambil keputusan strategis.

Ia menilai, kapasitas Prof Nuh tidak hanya terlihat dari pengalaman formal yang pernah dijalani. Menurut dia, Prof Nuh juga memiliki kapasitas intelektual, pengalaman mengelola institusi besar, serta kemampuan melihat persoalan secara strategis.

"NU hari ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memahami persoalan internal organisasi, tetapi juga mampu membaca perubahan eksternal. Dalam konteks itu, pengalaman Prof Muhammad Nuh di berbagai bidang memberikan perspektif yang cukup luas," jelas dia.

View this post on Instagram

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait