Nasional

Jelaskan Makna Kemerdekaan, Sudirman Said: Kita Belum Merdeka dari KKN

REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL— Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) Sudirman Said menegaskan bahwa kemerdekaan sejati bukan sekadar bebasnya Indonesia dari penjajahan fisik. Kemerdekaan berarti warga negara bergerak atas kesadaran sendiri untuk mengurus...

18 Agustus 2026, pukul 15:51 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL— Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) Sudirman Said menegaskan bahwa kemerdekaan sejati bukan sekadar bebasnya Indonesia dari penjajahan fisik.

Kemerdekaan berarti warga negara bergerak atas kesadaran sendiri untuk mengurus hidup bersama, bukan karena digerakkan paksaan aturan atau kekuasaan.

Baca Juga

Dia menyebut prinsip ini sebagai usaha bersama, lawan dari watak upaya paksa yang menjadi ciri era kolonial.

“Warga membayar pajak karena takut sanksi adalah upaya paksa," kata dia dalam orasi kemerdekaan, pada Senin (17/8/2026 di Universitas Harkat Negeri, Tegal. 

Dia mengatakan, warga membayar pajak karena sadar itu iuran membiayai hidup bersama adalah usaha bersama. Warga memilih pemimpin karena telah menerima uang atau janji adalah upaya paksa terselubung.

"Warga memilih pemimpin karena ingin sungguh-sungguh mencari yang terbaik adalah usaha bersama,” kata Sudirman Said

Sudirman menegaskan perbedaan antara upaya paksa dan usaha bersama bukan pada hasil di permukaan, melainkan pada dorongan di baliknya.

Dalam usaha bersama, rakyat menjadi pelaku yang menggabungkan modal, sumber daya, dan kapasitasnya untuk kepentingan bersama, bukan sekadar objek atau penonton dari kebijakan yang dibuat dari atas.

Sudirman juga mengaitkan gagasan usaha bersama dengan lirik lagu Indonesia Raya, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.”

Dia menekankan pembangunan jiwa disebut lebih dulu, sebelum pembangunan raga. Jiwa yang dimaksud adalah nilai luhur seperti kejujuran, keengganan mencuri, rasa malu, integritas, dan keberanian karena benar.

Tanpa jiwa yang lurus, menurutnya, kemajuan fisik dan ekonomi sebesar apa pun hanya akan bergerak seperti kapal tanpa kompas.

“Hari-hari ini, kondisi ‘kapal tanpa kompas’ tengah marak. Kelincahan otak diunggulkan, kebeningan nurani ditinggalkan. Kekuatan otot dipamerkan, tapi asas kewajaran dipinggirkan,” ujar Sudirman.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait