Nasional

Kala Santri Bertanya tentang 'Mahalnya' Sebuah Cita-Cita

JAKARTA — Kegelisahan tentang mahalnya biaya pendidikan tinggi disuarakan seorang santri dari Sulawesi Utara. Melalui sepucuk surat yang dibacakan di hadapan ribuan santri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rahmat Latara...

31 Oktober 2026, pukul 14:17 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA — Kegelisahan tentang mahalnya biaya pendidikan tinggi disuarakan seorang santri dari Sulawesi Utara. Melalui sepucuk surat yang dibacakan di hadapan ribuan santri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rahmat Latara meminta Presiden Prabowo Subianto memperluas kuota Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) agar semakin banyak santri mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Rahmat, santri Lembaga Pendidikan Islam Pondok Karya Pembangunan Manado, Sulawesi Utara, membacakan surat berjudul Sepucuk Surat dari Santri untuk Bapak Presiden dalam kegiatan Munajat Santri untuk Negeri, Jumat (30/10/2026) malam. Di hadapan para tokoh bangsa, menteri, ulama, dan pejabat negara, dia menyampaikan kegelisahan yang selama ini dirasakan banyak santri dari keluarga kurang mampu.

Baca Juga

Rahmat mengungkapkan, persoalan biaya kuliah kerap menjadi penghalang bagi santri untuk melanjutkan pendidikan. Padahal, keinginan untuk belajar dan meraih cita-cita tidak kalah besar dibandingkan anak-anak lain yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.

“Setiap malam menjelang tidur, saya selalu mengkhawatirkan masa depan saya di negeri ini. Saya bukan khawatir dengan kemampuan yang saya miliki, tetapi dengan sesuatu yang mungkin sederhana bagi sebagian orang, namun menjadi persoalan besar bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi: biaya perkuliahan,” ujar Rahmat dalam siaran pers, Sabtu (31/10/2026).

Sejumlah santri dan santriwati melantunkan mars Hari Santri pada acara Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10/2026). Kegiatan tersebut merupakan puncak dari rangkaian Hari Santri 2026 yang diselenggarakan sebagai wujud bakti santri bagi bangsa agar Indonesia senantiasa diberi keselamatan, kedamaian, dan keberkahan. - (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)

Kegelisahan itu semakin kuat setelah mendengar pengakuan seorang teman sebangkunya di pesantren. Ketika ditanya tentang rencana melanjutkan kuliah setelah lulus, temannya justru memilih bekerja karena tidak ingin membebani orang tua dengan biaya pendidikan tinggi.

Pengalaman tersebut membuat Rahmat mempertanyakan kesempatan santri dalam menggapai cita-cita. Menurut dia, keinginan menjadi dokter, guru, maupun pemimpin bangsa yang berilmu dan bertakwa seharusnya tidak terhenti hanya karena keterbatasan ekonomi.

Karena itu, dia mengapresiasi kehadiran program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) yang membuka akses pendidikan tinggi bagi santri dan kalangan pendidikan keagamaan. Namun, Rahmat berharap pemerintah memperbesar kuota penerima agar program tersebut dapat menjangkau lebih banyak santri di seluruh Nusantara.

Dalam suratnya, Rahmat menyinggung data 2024 yang menunjukkan sekitar 800 peserta terpilih dari kurang lebih 8.000 pendaftar BIB. Menurut dia, angka tersebut memperlihatkan masih besarnya kebutuhan santri terhadap akses beasiswa pendidikan tinggi.“Saya berharap kepada Bapak Presiden agar program ini dapat diperluas dan diperbanyak kuotanya bagi seluruh santri di Nusantara,” katanya.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait