REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengonsumsi buah setiap hari ibarat memberikan suntikan bahan bakar alami agar organ tubuh dapat berfungsi secara optimal. Namun, ketika masuk dalam ranah praktik kehidupan sehari-hari, kesepakatan universal ini sering kali buyar dan memicu banyak keraguan baru. Kapan waktu yang benar-benar tepat untuk makan buah?
Bolehkah makan buah segar saat malam hari, atau haruskah selalu pada pagi hari? Apakah buah yang berair bisa menggantikan peran air putih?
Baca Juga- Enam Makanan yang Bisa Mendukung Umur Panjang dan Penuaan Sehat
- Ini Alasan Wasabi dan Jahe Jadi 'Penyelamat' Saat Makan Sushi
- Baru Selesai Makan Tapi Lapar Lagi? Ini Penjelasan Medisnya
Banyak anjuran seputar konsumsi buah yang beredar di masyarakat lahir dari asumsi mandiri atau sekadar saran yang diwariskan turun-temurun tanpa validasi medis. Karena buah dicap sebagai makanan sehat, orang cenderung berpikir bahwa aturan kuantitas dan waktu menjadi tidak penting lagi. Padahal, urusan takaran dan momen mengonsumsinya tetap memiliki pengaruh tersendiri bagi tubuh.
Pekerja beristirahat diantara buah semangka di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Jumat (7/3/2025). - (Republika/Prayogi)
Chief Clinical Dietician di SIMS Hospital, Chennai, dr Vinitha Krishnan membagikan pandangan ilmiahnya untuk meluruskan kesalahpahaman yang telanjur mengakar di masyarakat. Salah satu kekeliruan yang paling sering dijumpai adalah anggapan bahwa buah-buahan yang kaya air bisa menjadi subsitusi atau pengganti cairan utama tubuh. Ketika seseorang mengonsumsi banyak semangka atau melon yang berair, mereka kerap merasa sudah cukup terhidrasi sehingga secara tidak sadar mengurangi jatah minum air putih harian mereka dari standar delapan hingga sembilan gelas.
"Tidak ada yang bisa menggantikan air putih. Air putih tetap menjadi sumber hidrasi terbaik. Bagaimanapun, buah-buahan yang kaya akan kandungan air dapat menjadi pelengkap untuk mendukung target hidrasi," ujarnya dikutip dari laman Hindustan Times pada Senin (22/6/2026).
Jika dipetakan berdasarkan volume cairannya, beberapa jenis buah memang memiliki kandungan air yang sangat tinggi dan sangat ideal dikonsumsi, terutama saat cuaca panas. Mentimun menduduki posisi teratas dengan kadar air mencapai 95 hingga 96 persen, diikuti oleh semangka di kisaran 92 persen. Sementara itu, blewah, jeruk, jeruk nipis manis, nanas, hingga pepaya rata-rata menyimpan kandungan air antara 80 sampai 90 persen.
Mentimun - (pixabay)
Di luar fungsi hidrasi makro, buah-buahan seperti pisang, jeruk, kelapa, dan semangka juga kaya akan kandungan elektrolit alami. Namun, sang ahli diet kembali menegaskan catatan penting bahwa buah-buahan tidak akan pernah bisa menggantikan kebutuhan hidrasi utama, terutama pada jam-jam terpanas di siang hari atau ketika tubuh kehilangan banyak cairan, seperti saat berkeringat akibat olahraga berat. Buah berfungsi sebagai mitra pendukung hidrasi, bukan sumber tunggal yang berdiri sendiri.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika