REPUBLIKA.CO.ID, WONOSOBO — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Gunung Sumbing di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah (Jateng), pada Senin (19/10/2026). Sebanyak 152 pendaki harus dievakuasi menyusul peristiwa tersebut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan, per Selasa (20/10/2026), sebanyak 53 titik panas atau hotspot terpantau di kawasan Gunung Sumbing. “Untuk luasannya sekitar 140 hektare,” ucapnya ketika dihubungi, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga- Singapura Bakal Tindak Perusahaan di Balik Asap Karhutla
- Baznas Tangani Karhutla di 12 Titik, Salurkan Bantuan di Puluhan Lokasi
- Karhutla Berdampak pada 2.600 Penerbangan, Ini Langkah Mitigasi Kemenhub
Dia menyebut, karhutla di kawasan Gunung Sumbing terbilang cukup cepat menjalar. “Karena yang terbakar ini savana (sabana). Kecepatan merambatnya memang lebih cepat savana,” ujarnya.
Bergas mengungkapkan, akibat karhutla, sebanyak 152 pendaki harus dievakuasi. “Pendaki di Sumbing sudah diturunkan semua semalam. Totalnya ada 152 pendaki,” kata dia.
Ia menerangkan, saat ini terdapat 300 personel gabungan, termasuk TNI-Polri, yang dikerahkan ke lapangan untuk melakukan pemadaman. Menurut Bergas, opsi pemadaman dengan metode water bombing belum dibahas. Dia mengatakan, water bombing biasanya akan dilakukan ketika pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat bencana.
Bergas mengungkapkan, sejauh ini penyebab karhutla di kawasan Gunung Sumbing belum diketahui. Namun dia tak mengesampingkan faktor kelalaian manusia atau human error sebagai pemicu kebakaran.
Dia mengatakan, fenomena El Nino memang menyebabkan vegetasi di kawasan pegunungan menjadi lebih kering. Kondisi demikian membuat kebakaran lebih mudah terjadi.
Lihat postingan ini di InstagramIkuti Whatsapp Channel Republika