REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengembangan sektor properti di Asia Tenggara memasuki fase yang semakin strategis. Perkembangannya tidak lagi semata-mata bergantung pada pemulihan siklus pasar, tetapi juga dipengaruhi fragmentasi geopolitik, diversifikasi rantai pasok, investasi infrastruktur, digitalisasi, dan standar keberlanjutan yang semakin tinggi.
JLL (NYSE: JLL) menilai, berbagai dinamika tersebut turut memperluas pertumbuhan sektor properti di luar Jakarta dan kelas aset tradisional. Seiring dengan itu, peluang semakin berkembang di koridor-koridor industri serta pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga- Pasar Modal Terguncang, BNI dan BTN Kompak Buyback Saham
- Optimalisasi Aset Properti Jadi Strategi Perbankan Syariah Perkuat Likuiditas
- Pelaku Properti Bahas Cara Bertahan dan Tumbuh di Tengah Pasar yang Berubah
Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah menjelaskan, Indonesia saat ini memasuki fase pertumbuhan real estate yang sudah beralih. Menurut dia, perkembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) di Jabodetabek, Bali, Batam, dan sejumlah lokasi strategis lainnya turut menarik permintaan dari berbagai sektor, termasuk layanan kesehatan, pusat data, perkantoran, serta sektor ritel dan perhotelan.
"Jakarta tetap menjadi pusat ekonomi utama Indonesia, namun dalam jangka menengah, peluang yang semakin menarik justru terletak pada bagaimana regulasi pemerintah, pembangunan infrastruktur dan investasi membantu membangun ekosistem ekonomi baru di berbagai wilayah lain di negara ini," ujar Farazia dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika