REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Lalu, seperti apakah sosok ibu yang dikehendaki Alquran ? Ibu yang dikehendaki Alquran bukan sekadar orang yang memasak makanan dan merawat fisik anak-anaknya.
Lebih dari itu, ia adalah pencetak generasi tangguh dan pembangun peradaban. Sosok itu tercermin dalam keyakinan ibu Nabi Musa, niat mulia istri Imran, dan kesabaran diam-diam ibu Nabi Yusuf.
Baca Juga- Islam adalah Agama Kasih Sayang, tetapi Apa yang Justru Terjadi Saat Ini?
- Binatang yang Menyeret Tiga Golongan Manusia ke Neraka Jahanam
- 9 Alasan Mengapa Muslim tak Boleh Membiarkan Kemaksiatan Terjadi di Sekitarnya
Allah SWT berfirman:
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Artinya, “Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia (Musa). Jika engkau khawatir terhadapnya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.’” (QS Al-Qasas [28]: 7).
Itulah sosok ibu yang luar biasa. Ia berusaha menjaga keselamatan anaknya dan memandangnya dengan penuh kecemasan.
Namun, ia tidak membiarkan gejolak perasaannya menghalangi ketaatannya kepada perintah Allah. Dengan keyakinan dan keimanan yang kuat, ia menghanyutkan putranya ke sungai dan menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan semesta alam.
Ayat ini, wahai saudara-saudaraku, merupakan sebuah keajaiban balaghah tersendiri. Dalam satu ayat, terkandung dua berita, dua perintah, dua larangan, dan dua kabar gembira.
Dua berita tersebut adalah firman Allah, “Kami mengilhamkan kepada ibu Musa,” dan “Jika engkau khawatir terhadapnya,” yang mengisyaratkan bahwa sang ibu memang akan diliputi rasa takut terhadap keselamatan anaknya.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika