REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) setidaknya dua kali dalam sepekan. Upaya membuat hujan itu dilakukan untuk mengantisipasi kekeringan selama musim kemarau yang diperkirakan bakal berlangsung hingga Oktober.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, pihaknya telah melakukan rapat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengantisipasi dampak musim kemarau. Dari rapat itu diketahui bahwa musim kemarau yang disertai fenomena El Nino kali ini diperkirakan masih akan terjadi hingga dua bulan ke depan.
Baca Juga- Calon Jamaah Tak Cukup Hanya Fit to Fly, Perdokhi Dorong Klinik Terpadu Kesehatan Haji dan Umrah
- Qatar: Hamas Telah Penuhi Kewajibannya, Masyarakat Internasional Harus Tekan Israel
- Rakernas AFEB PTMA 2026 di UMJ Bahas Transformasi Perguruan Tinggi Berbasis Dampak
"Dari data yang ada, puncak El Nino itu akan panjang, mungkin salah satu yang terpanjang dibandingkan dengan tahun 2023 pada waktu itu. Puncaknya kurang lebih nanti akhir September atau minggu pertama, kedua, Oktober baru akan ada hujan," kata dia di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Pramono menyatakan, pihaknya telah menyiapkan rencana untuk melakukan OMC demi membuat hujan di wilayah ibu kota. Namun, OMC itu hanya bisa dilakukan ketika ada awan yang cukup di langit.
Menurut dia, permasalahan yang ada saat ini adalah keberadaan awan jarang ditemukan. Ketika tidak ada awan, OMC tidak mungkin bisa dilakukan.
"Jadi intinya tadi saya sudah memberikan persetujuan untuk kalau bisa setiap minggu itu satu-dua kali dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca kalau ada awan. Karena ini akan berlangsung lama," kata dia.
Pramono juga mengingatkan masyarakat untuk siaga menghadapi potensi kebakaran. Pasalnya, peristiwa kebakaran sangat berpotensi terjadi selama musim kemarau.
Karena itu, Pemprov DKI Jakarta disebut akan membuat kampanye untuk mengantisipasi peristiwa kebakaran, termasuk dalam penyediaan air bersih. Di sisi lain, ia juga meminta aparat di tingkat RT/RW untuk mempersiapkan akan alat pemadam api ringan (APAR).
"Karena ini pasti cepat atau lambat karena suasananya kering dan juga kemungkinan untuk terjadi ISPA," kata dia.
Ikuti Whatsapp Channel Republika