Nasional

Kemarau Picu Lonjakan Kebakaran di Cirebon, Sehari Bisa 14 Kejadian

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Kasus kebakaran di Kabupaten Cirebon melonjak tajam sepanjang musim kemarau 2026. Hingga Juli 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Cirebon mencatat 168 kejadian, bahkan sudah...

11 Agustus 2026, pukul 07:52 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Kasus kebakaran di Kabupaten Cirebon melonjak tajam sepanjang musim kemarau 2026. Hingga Juli 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Cirebon mencatat 168 kejadian, bahkan sudah melampaui total kebakaran sepanjang 2025 yang mencapai 156 kejadian.

Kepala Bidang Pemadaman, Penyelamatan, Sarana dan Prasarana (PPSP) Disdamkarmat Kabupaten Cirebon Eno Sujana mengatakan, lonjakan paling tinggi terjadi pada Juli 2026 ketika petugas menangani puluhan kebakaran dalam satu bulan. "Sepanjang Juli total ada 77 kejadian kebakaran,” ujar Eno, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga

Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan periode Januari-Juli 2025 yang mencatat 88 kejadian. Artinya, hanya dalam tujuh bulan pertama 2026, jumlah kebakaran di Cirebon hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari 77 kejadian pada Juli, kebakaran lahan menjadi kasus terbanyak dengan 54 kejadian. Selain itu, kebakaran juga melanda 18 unit rumah warga, dua toko, dan tiga pabrik.

Eno mengungkapkan, intensitas kebakaran pada Juli bahkan sempat mencapai 14 titik dalam satu hari. Kondisi tersebut membuat petugas harus bergerak cepat menangani sejumlah lokasi kebakaran secara bersamaan.

“Pada bulan Juli lalu, kami bahkan pernah memadamkan kobaran api di 14 titik berbeda hanya dalam waktu satu hari,” ungkap Eno.

Berdasarkan evaluasi Disdamkarmat, mayoritas kebakaran di kawasan permukiman dipicu hubungan arus pendek atau korsleting listrik. Kondisi tersebut umumnya berkaitan dengan instalasi listrik yang tidak memenuhi standar keamanan.

Eno meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau. Salah satunya dengan menghindari penggunaan stop kontak secara bertumpuk yang dapat memicu panas berlebih hingga melelehkan kabel.

Warga juga diminta mencabut perangkat listrik yang tidak diperlukan ketika meninggalkan rumah serta memastikan kompor, baik berbahan gas, minyak, maupun listrik, dalam kondisi benar-benar mati.

Pemeriksaan instalasi listrik secara berkala juga diperlukan. Eno mengimbau warga menghindari penggunaan kabel berukuran kecil atau kabel rambut yang lebih rentan mengalami korsleting.

Selain bangunan, ancaman kebakaran lahan juga meningkat selama musim kemarau. Peternak, pencari rumput, dan warga yang beraktivitas di area terbuka diminta tidak membuang puntung rokok yang masih menyala secara sembarangan.

“Api akan langsung tercipta jika tiga unsur utamanya terpenuhi dalam satu waktu, yaitu adanya suhu panas, material yang mudah terbakar, dan pasokan oksigen,” jelas Eno.

Warga yang membersihkan lingkungan dengan cara membakar sampah juga diminta tidak meninggalkan sisa pembakaran tanpa pengawasan. Jika pembakaran terpaksa dilakukan, prosesnya harus ditunggu hingga benar-benar selesai dan area tersebut dipastikan aman.

“Jika terpaksa harus membakar sampah, tunggu prosesnya sampai selesai. Siapkan juga satu ember air di dekat lokasi atau buat sekat pembatas agar bara api tidak merembet ke area sekitarnya,” kata Eno.

Lihat di situs asli

Berita terkait