REPUBLIKA.CO.ID, Tangerang Selatan — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin masif tidak akan mampu menggantikan peran manusia, terutama dalam pembentukan karakter, adab, dan tradisi keilmuan Islam.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Muchlis M Hanafi, menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu yang tidak memiliki sanad keilmuan, guru, maupun tanggung jawab moral.
Baca Juga- Apakah Orang Mati Mendengar dan Menjawab Salam Mereka yang Masih Hidup?
- Pengakuan Eks Anggota Geng Bersenjata di Gaza: Israel Janjikan Kehidupan Lebih Baik, Ternyata...
- Ilusi Perang Irak, Suriah, Lebanon, dan Iran: Hentikan Segera Israel Raya Jika Ingin Dunia Damai
“AI dapat membantu menemukan ayat, hadis, kitab tafsir, atau pendapat ulama dalam hitungan detik," kata Muchlis dalam Orasi Ilmiah Wisuda Santri Akhirussanah XIX Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah di Gedung SC STAN Bintaro, Tangerang Selatan, Ahad (21/6/2026) lalu.
Namun, menurut Muchlis, AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, tidak memiliki pengalaman spiritual, dan tidak memikul tanggung jawab moral atas jawaban yang diberikannya.
Dalam orasi bertajuk Dari Tradisi Keilmuan Menuju Peradaban: Menjadi Generasi Qur’ani di Era Kecerdasan Buatan, Muchlis menekankan bahwa dalam tradisi Islam, ilmu tidak hanya menyangkut benar atau salahnya informasi, tetapi juga siapa yang mengajarkan, bagaimana ilmu itu diperoleh, serta nilai dan adab yang menyertainya.
“Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar soal informasi yang benar, tetapi juga tentang siapa yang mengajarkannya, bagaimana cara memperolehnya, serta nilai-nilai dan adab yang menyertainya,” ujarnya dalam keterangannya kepada Republika.co.id di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Karena itu, menurut Muchlis, kehadiran AI memang dapat membantu proses belajar dan memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak akan pernah menggantikan peran guru, ulama, dan tradisi talaqqi yang telah menjadi ciri khas transmisi keilmuan Islam sejak masa Rasulullah SAW hingga sekarang.
Dia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat generasi muda kehilangan semangat belajar dan dedikasi terhadap ilmu.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika