JAKARTA -- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan peningkatan kinerja hingga kuartal III 2026. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita W. Anggraini menyampaikan laba bersih konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp45,5 triliun hingga September 2026 atau tumbuh 20,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Novita mengatakan peningkatan laba tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee-based income). Hingga September 2026, fee-based income Bank Mandiri tumbuh 13,75 persen secara tahunan menjadi Rp 29,4 triliun.
Baca Juga- Bank Mandiri Bagikan Dividen Rp 50,63 Triliun Sepanjang 2026
- Umrah Mandiri dan Wisata Halal Jadi Tren Baru, Pasar Wisata Ramah Muslim Menguat
- Penjelasan Bank Mandiri Terkait Agunan Saham JARR dan PGUN
"Penggerak utamanya berasal dari fee-based income kami yang tumbuh 13,75 persen secara tahunan atau menjadi Rp 29,4 triliun," ujar Novita dalam Paparan Publik Kinerja Bank Mandiri Kuartal III 2026 di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Novita menyampaikan pertumbuhan fee-based income tersebut turut didorong oleh peningkatan transaksi digital melalui Livin' dan Kopra. Masing-masing mencatat pertumbuhan sebesar 42,9 persen dan 23,7 persen secara tahunan.
Selain transaksi digital, sambung Novita, pertumbuhan signifikan juga dicatatkan pada pendapatan berbasis komisi yang berkaitan dengan transaksi, termasuk transaksi perdagangan (trade) dan treasury, yang tumbuh sekitar 29,4 persen secara tahunan. Novita mengatakan Bank Mandiri akan terus mengakselerasi transaksi melalui penguatan Livin' dan Kopra.
"Tentunya kami ingin terus mengakselerasi transaksi melalui penguatan Livin' dan juga Kopra. Tujuannya, selain meningkatkan fee-based income, juga akan memperbesar porsi transaksional, khususnya untuk menjaga cost of fund," ucap Novita.
Memasuki akhir 2026, lanjutnya, Bank Mandiri optimistis dapat mempertahankan kinerja positif. Novita menyampaikan manajemen juga akan melanjutkan penyaluran kredit secara selektif dengan memperkuat ekosistem bisnis, meningkatkan penghimpunan dana murah berbasis transaksi, serta memperkuat strategi bisnis melalui digitalisasi.
"Target pertumbuhan terus kami evaluasi, tentunya dengan mempertimbangkan realisasi kinerja, kondisi pasar, prospek, dan juga tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kecukupan likuiditas, dan kualitas aset," ungkap Novita.
Di sisi permodalan, Novita memastikan pembayaran dividen interim sebesar Rp 6,16 triliun pada 2 Oktober 2026 tidak mengganggu ketahanan modal Bank Mandiri. Setelah pembayaran dividen tersebut, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) Bank Mandiri masih berada di level 18,4 persen.
"Dengan adanya pembayaran dividen tersebut, CAR Bank Mandiri masih terjaga dengan sehat, yaitu sebesar 18,4 persen. Trennya dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, selalu menunjukkan arah yang positif," ucap Novita.
Novita menyampaikan Bank Mandiri ke depan akan menjaga CAR pada kisaran 18–19 persen. Menurut Novita, level tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk menangkap peluang bisnis sekaligus menjaga ketahanan dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
"Kisaran ini tentunya memberikan ruang untuk menangkap potensi bisnis sekaligus menjaga ketahanan bank dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi," kata Novita.