Oleh: Muhammad Imam, S.IK, Pengamat Marketing Usahid
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Beberapa tahun lalu, kalau seseorang datang ke agen, minimarket atau warung untuk membeli galon air minum, pertanyaannya sederhana. Merek apa yang tersedia? Jarang ada yang bertanya galonnya terbuat dari plastik jenis apa.
Apalagi sampai membahas kandungan Bisphenol A (BPA), kode plastik atau risiko migrasi bahan kimia dari kemasan ke air minum. Bagi kebanyakan orang, galon ya galon, yang penting airnya bersih dan tidak tercemar, sehat, mereknya dipercaya, tersedia serta mudah ditemukan di manapun.
Pola persaingan industri air minum dalam kemasan (AMDK) saat itu berlangsung relatif sederhana. Produsen berlomba menawarkan kualitas sumber air, jangkauan distribusi, harga, dan kekuatan merek. Hanya itu, tidak lebih dan tidak menghalalkan segala cara untuk merebut hati konsumen.
Peta persaingan kemudian berubah pada 2020, ketika istilah BPA-free mendadak muncul di mana-mana. Televisi, media sosial, video pendek, artikel kesehatan, sampai percakapan ibu-ibu di grup WhatsApp membahas istilah tersebut. Kesadaran publik terkait BPA tiba-tiba meledak. Banyak orang yang sebelumnya tidak pernah mendengar istilah BPA tiba-tiba ikut membahasnya.
Padahal, BPA sebenarnya bukan zat baru. Senyawa ini telah digunakan sejak 1950-an sebagai bahan pembentuk plastik polikarbonat. Banyak literasi menjelaskan, dalam prosesnya BPA melebur dengan senyawa lainnya dan berubah menjadi polikarbonat, bukan lagi BPA. BPA tidak sama dengan polikarbonat.
Kontroversi muncul ketika berbagai penelitian internasional mulai mengkaji kemungkinan migrasi BPA dari kemasan ke makanan dan minuman. Perdebatan itu pertama kali meledak pada produk botol susu bayi.
Kanada mulai membatasi botol bayi berbahan BPA pada 2008. Uni Eropa menyusul pada 2011. Sejak saat itu, label "BPA-free" berubah menjadi alat pemasaran global. Hingga akhirnya gelombang itu masuk ke Indonesia.
Pada tahap awal, isu BPA masih terbatas di produk rumah tangga dan perlengkapan bayi. Namun situasi berubah drastis ketika perang komunikasi masuk ke industri AMDK nasional. Istilah BPA Free tiba-tiba ramai.
Viralitas itu tidak terjadi begitu saja, ada pemicu. Dia didorong dan tidak lahir dari jari jemari publik yang dengan sengaja mengunggah atau membagikan segala informasi terkait BPA yang terkandung dalam galon polikarbonat.
Publik mulai mencari apa itu BPA dan bagaimana bisa ada di dalam galon polikarbonat. Sebagian mulai mencari tahu perbedaan galon PET dan polikarbonat. Sebagian lagi, mulai mempertanyakan galon yang selama ini mereka gunakan di rumah.
Kalau ditarik ke belakang, perubahan itu bukan muncul secara alami. Ada strategi komunikasi sehingga mengubah cara publik melihat sebuah kemasan produk yang sejak 1983 dianggap biasa saja. Tidak pernah ada masalah, tidak dituding menjadi dalang perubahan hormonal pada manusia.
Perubahan ini terasa sekitar 2020 saat Le Minerale masuk pasar AMDK dengan pendekatan berbeda. Perusahaan ini menjalankan kampanye besar-besaran yang menjadikan BPA Free sebagai salah satu pesan utamanya. Lewat berbagai kanal komunikasi, publik diperkenalkan pada narasi galon PET selalu baru dan bebas BPA.
Padahal penggunaan galon PET bukan barang baru di Indonesia. Jauh sebelum isu BPA ramai dibicarakan, Cleo sudah lebih dulu menggunakan galon PET. Produk itu juga sejak awal tidak menggunakan BPA sebagai bahan baku plastiknya.
Namun saat itu, keunggulan tersebut tidak dijadikan isu besar yang dibawa ke ruang publik. Cleo memperkenalkan galon PET sebagai pilihan produk. Tidak ada upaya besar mengubah persepsi masyarakat terhadap galon jenis lain yang sudah beredar di pasar. Karena itu, isu BPA nyaris tidak terdengar.
Di sinilah titik baliknya. Yang berubah bukan hanya strategi pemasaran satu merek, yang berubah adalah cara pasar bekerja. Untuk pertama kalinya, kemasan atau galon menjadi pusat perhatian. Bukan lagi pada merek dan sumber air minum.
Perubahan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Dalam dunia bisnis, perusahaan yang berhasil mengubah topik pembicaraan biasanya memperoleh keuntungan lebih dulu. Sebab mereka tidak lagi bermain di arena lama, melainkan menciptakan arena baru yang harus diikuti pesaingnya.
Itulah yang terjadi pada industri AMDK Indonesia. Narasi BPA-free menggeser perdebatan dari soal kualitas air menjadi soal kemasan. Media sosial kemudian mempercepat proses tersebut. Konten mengenai bahaya BPA menyebar luas.
Istilah yang sebelumnya hanya dikenal di kalangan akademisi dan regulator masuk ke ruang keluarga. Akibatnya, banyak orang melihat persoalan ini secara hitam-putih: ada galon yang aman dan ada galon yang tidak aman. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
BPOM tidak pernah melarang penggunaan galon polikarbonat. Regulator justru memilih pendekatan pengawasan dan pembatasan migrasi BPA agar tetap berada dalam ambang aman, yakni tidak lebih dari 0,6 bpj.
Di sisi lain, pemain lama seperti Aqua mengambil pendekatan berbeda. Alih-alih mendemonisasi satu jenis plastik, pendekatan yang dibangun lebih berbasis kepatuhan regulasi dan sistem keamanan pangan.
Aqua tetap mempertahankan dominasi galon PC guna ulang sambil perlahan mulai memperkenalkan galon PET di beberapa wilayah sejak sekitar 2019. Pendekatan ini mencerminkan dilema besar industri global.
PET memang tidak menggunakan BPA sebagai bahan pembentuk utama. Namun, galon PET umumnya lebih dekat pada konsep sekali pakai atau semi reusable. Sementara PC unggul dalam aspek reuse dan daya tahan penggunaan berulang.
Perdebatan akhirnya bergeser dari sekadar "BPA versus BPA Free" menjadi diskusi yang jauh lebih kompleks tentang sustainability, circular economy, emisi karbon, limbah plastik, hingga mikroplastik.
Ironisnya, perkembangan ilmu pengetahuan juga terus bergerak. Saat publik ramai membahas BPA, para peneliti menemukan mikroplastik hampir di semua jenis air minum. Termasuk air kemasan, air ledeng, bahkan botol kaca.
Artikel ilmiah Waste Handling and Environmental Monitoring tahun 2024 mencatat berbagai jenis polimer dapat menjadi sumber mikroplastik, mulai dari PET, PP, PE, PVC, PS hingga PC.
Penelitian itu juga menegaskan, mikroplastik dalam air minum tidak hanya berasal dari botol, juga dari tutup kemasan, pipa distribusi, proses produksi, hingga lingkungan sekitar. Artinya, persoalan keamanan kemasan ternyata jauh lebih rumit dibandingkan sekadar memilih satu jenis plastik dan menyebutnya paling aman.
Di titik inilah sejarah AMDK Indonesia menjadi menarik. Artinya, tidak ada kemasan yang benar-benar tanpa tantangan. Tidak ada material yang sepenuhnya bebas risiko.
Kaca bisa pecah dan berat. PVC ditinggalkan. PC diperdebatkan karena BPA. PET dikritik karena mikroplastik dan limbah sekali pakai. Bahkan sistem isi ulang pun memiliki tantangan sanitasi dan distribusi.
Pada akhirnya, industri pangan modern hidup bukan dengan mencari kemasan sempurna, melainkan dengan terus memperbaiki standar keamanan, teknologi produksi, pengawasan regulator, dan edukasi publik. Sebab sejarah menunjukkan, evolusi kemasan pangan tidak pernah berhenti.
Ikuti Whatsapp Channel Republika Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.