REPUBLIKA.CO.ID, Nama Syekh Tubagus Muhammad Asnawi al-Bantani tidak hanya dikenal sebagai ulama berpengaruh dari Caringin, Labuan, Pandeglang, Banten tetapi juga sebagai salah satu tokoh yang turut mengobarkan perlawanan rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial Belanda. Pada 1926, Syekh Asnawi bersama para ulama mendirikan Laskar Mujahidin sebagai bagian dari perjuangan menghadapi kesewenang-wenangan pemerintah kolonial.
Pada 1926, ketika suhu perjuangan menentang pemerintah kolonial Belanda semakin memuncak, Syekh Asnawi bersama sejumlah ulama di Banten mendirikan sebuah laskar yang diberi nama Laskar Mujahidin. Laskar ini menjadi salah satu wadah perjuangan rakyat dalam menghadapi pemerintahan kolonial yang dinilai semakin sewenang-wenang terhadap rakyat.
Baca Juga- HUT ke-19 RSUD Cikalongwetan, Bupati Jeje Tekankan Pelayanan Pasien BPJS dan Umum Harus Setara
- Masjid Istiqlal Masuk Bursa Efek, Buya Anwar Abbas Ingatkan Risiko Investasi Wakaf Tunai
- Digitalisasi Inspeksi Jadi Bagian Pembenahan Standar Keamanan Kendaraan Niaga Hino
Dalam perjuangan tersebut, ulama kelahiran tahun 1850 ini melakukan aksi sabotase terhadap kantor Pos, Telepon, dan Telegraf (PTT) di Jakarta. Ia mengobrak-abrik sejumlah peralatan serta memutus kabel telepon yang menghubungkan komunikasi dengan Banten. Tindakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi perjuangan untuk menghambat komunikasi pemerintah kolonial Belanda dan memperkuat gerakan perlawanan.
Dikutip dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, diterangkan bahwa Syekh Asnawi menilai fasilitas komunikasi tersebut perlu dilumpuhkan karena dapat digunakan pemerintah kolonial untuk kepentingan pengendalian dan menghadapi gerakan perlawanan rakyat. Dalam struktur Laskar Mujahidin, putranya, KH Emed Ahmad Hadi, dan menantunya, KH Tb Achmad Chatib, dipercaya sebagai panglima. Sementara itu, Ki Emed juga bertugas sebagai penanggung jawab seksi logistik.
Pada 15 November 1926, para pejuang pergerakan kemerdekaan dan Laskar Mujahidin menyerang konvoi serdadu Belanda di jembatan Sanggoma Caringin Labuan Banten. Perlawanan rakyat yang pada awalnya akan dilaksanakan di seluruh Nusantara, namun akhirnya hanya dilancarkan di beberapa kota termasuk di Banten yang paling gencar mengadakan perlawanan. Terjadi Pertempuran hebat dengan diawali pelemparan granat tangan ke arah serdadu Belanda sehingga menewaskan lima orang dan belasan lainnya terluka.
Serdadu Belanda kemudian membalas dengan tembakan sehingga banyak yang gugur dan terluka dari pihak Laskar Mujahidin dan pejuang. Termasuk Komandan Mujahidin H Sali dan wakilnya Amad. Mereka yang syahid kemudian di makamkan di pinggir sungai Sanggoma (Cisanggoma) secara massal.
Tim Dompet Dhuafa membersihkan Masjid Agung Syekh Asnawi Caringin - Banten, Kamis (24/4/2019). Kegiatan bersih- bersih masjid dalam menyambut Ramadhan 1440 H / 2019 M. - (dok. Dompet Dhuafa)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika