Nasional

Kisah Ulama Aceh yang Paling Ditakuti Kolonial Belanda, Gugur Diracun Pengkhianat Bangsa

REPUBLIKA.CO.ID, Perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajahan Belanda tidak lepas dari peran para ulama yang menjadi penggerak sekaligus sumber semangat perjuangan. Salah satu sosok yang paling ditakuti Belanda adalah Teungku Chik...

11 Agustus 2026, pukul 08:09 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, Perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajahan Belanda tidak lepas dari peran para ulama yang menjadi penggerak sekaligus sumber semangat perjuangan. Salah satu sosok yang paling ditakuti Belanda adalah Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman, ulama dari Pidie yang selama lebih dari satu dekade memimpin perang sabil dan berhasil merebut kembali sejumlah wilayah Aceh dari tangan penjajah.

Belanda bahkan menawarkan hadiah 1.000 dollar AS bagi siapa saja yang mampu menangkapnya hidup atau mati. Namun, ketika berbagai upaya menghadapi perlawanan Teungku Chik Di Tiro di medan perang tidak berhasil, Belanda akhirnya menggunakan cara licik hingga sang ulama wafat setelah diracun oleh seorang penghianat bangsa.

Baca Juga

Alkisah, pada akhir 1880, dapat dikatakan bahwa daerah yang disebut Aceh Lhee Sagoe yaitu Kabupaten Aceh Besar dan Kotamadya Banda Aceh sekarang, telah jatuh ke tangan Belanda. Kecuali daerah pegunungan Seulawah yang dijadikan sebagai tempat persembunyian para pejuang Aceh.

Para pejuang yang bersembunyi di sekitar gunung Seulawah terus memikirkan solusi dalam menghadapi Belanda yang telah berhasil menguasai Aceh Besar. Untuk itu, mereka melakukan pertemuan yang membahas langkah-langkah yang harus diambil berkaitan dengan keadaan menghadapi penjajah Belanda pada waktu itu.

Pertemuan itu dilaksanakan di gunung Biram dekat Lamtamot, sekitar 10 km dari Seulimum. Sesudah bertukar pikiran secara panjang lebar, akhirnya mereka berkesimpulan bahwa perjuangan melawan penjajah perlu dilanjutkan, dilansir dari buku Tokoh Agama Dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950 di Aceh karya Rusdi Sufi, Muhammad Nasir, dan Zulfan yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1997,

Untuk itu, harus diupayakan bantuan dari luar Aceh Besar. Bantuan itu harus diminta melalui para ulama, karena ulamalah yang mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat pada waktu itu. Terlebih dalam menghadapi penjajah Belanda yang kafir dan punya kekuatan besar.

Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tersebut, maka diputuskan agar beberapa orang ke daerah Pidie untuk menemui para ulama. Utusan gunung Biram itu berangkat melalui bukit Barisan di pinggir gunung Seulawah untuk menghindari dari penglihatan mata-mata penjajah Belanda.

Juru pelihara membersihkan dan memotong rumput di kawasan komplek kuburan Kerkhoff Peutcut, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (14/8/2021). Perawatan dan pemeliharaan kuburan prajurit Belanda yang tewas dalam perang Aceh tersebut meliputi pemeliharaan tanaman dan pohon, pemotongan rumput, pembersihan, dan konservasi kuburan-kuburan atau monumen yang rusak agar bukti sejarah tetap terjaga. - (Antara/Syifa Yulinnas)

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait