REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kelompok 9 Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) melaksanakan program Edukasi dan Workshop EcoComposter bagi masyarakat RT 07/RW 08, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, sejak Jumat (8/8/2026).
Program yang masih berlangsung melalui pendampingan kepada warga ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah organik sejak dari rumah dengan memanfaatkan komposter sederhana berbahan galon bekas.
Baca Juga : KKN Tematik 23 UMJ Ajak Siswa Optimalkan Limbah Galon untuk Dukung Urban Farming
Kegiatan ini bagian dari program edukasi lingkungan KKN UMJ yang dilaksanakan melalui kolaborasi mahasiswa dan masyarakat setempat. Warga diberi pemahaman mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik, dampak sampah yang tidak dikelola dengan baik, serta praktik pengolahan sampah organik menjadi kompos.
Keunikan program ini terletak pada lokasi pelaksanaannya yang berada di lingkungan tempat salah satu mahasiswa KKN, Sahdan Arya Maulana, menjalankan tugas sebagai Ketua RT 07/RW 08.
Mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMJ yang dikenal dengan julukan “RT Gen Z” tersebut turut menginisiasi dan terlibat langsung dalam pelaksanaan program bersama anggota subkelompoknya.
Sahdan berkolaborasi dengan Farhan Nur Ridhwan, mahasiswa Teknik Mesin UMJ, dan Fathir Aldian Novianto, mahasiswa Arsitektur UMJ. KKN Tematik Kelompok 9 tersebut dibimbing Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr Ratna Dewi Nur'aini, ST, M.Sc.
Edukasi Pengelolaan Sampah dari Sumbernya
Program EcoComposter dirancang untuk memberikan pemahaman bahwa sampah organik rumah tangga, seperti sisa makanan dan bahan organik lainnya, tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan.
Dengan pengolahan yang tepat, sampah tersebut dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos untuk tanaman dan penghijauan lingkungan.
Dalam kegiatan edukasi, mahasiswa KKN menjelaskan pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga. Warga juga diperkenalkan dengan perbedaan antara sampah organik dan anorganik serta pentingnya pengelolaan sampah secara bertanggung jawab.
Mahasiswa kemudian memperkenalkan pengomposan sebagai salah satu metode sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi volume sampah organik.
“Pengelolaan sampah sebaiknya dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu dari rumah masing-masing. Masyarakat tidak harus menunggu adanya fasilitas pengolahan sampah dalam skala besar untuk mulai melakukan perubahan,” ujar Sahdan dalam keterangan, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, melalui penerapan komposter sederhana, sampah organik rumah tangga yang sebelumnya langsung dibuang dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.
“Sampah organik dari rumah sebenarnya bisa kita kelola sendiri. Selain memiliki manfaat kembali, langkah ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang masuk ke sistem pengangkutan dan pembuangan akhir,” tambahnya.
Manfaatkan Galon Bekas Sebagai Komposter
Salah satu kegiatan utama dalam program EcoComposter adalah praktik pembuatan komposter sederhana dengan memanfaatkan galon bekas air mineral, khususnya galon bekas Le Minerale. Pemanfaatan galon bekas tersebut menjadi bagian dari upaya penggunaan kembali barang yang sudah tidak digunakan.
Mahasiswa KKN memberikan penjelasan mengenai alat dan bahan yang dibutuhkan serta tahapan pembuatan komposter. Peserta kemudian mendapatkan pendampingan mulai dari persiapan wadah hingga cara memasukkan bahan organik ke dalam komposter.
Dalam sesi praktik, Farhan dan Fathir turut memberikan pendampingan kepada warga bersama Sahdan. Ketiganya membantu peserta memahami tahapan pembuatan sekaligus cara menggunakan dan merawat komposter agar proses pengomposan dapat berjalan dengan baik.
Warga juga diberikan pemahaman mengenai bahan organik yang dapat dimasukkan ke dalam komposter serta bahan yang sebaiknya tidak dicampurkan. Pendampingan tersebut dilakukan agar masyarakat mampu menerapkan proses pengomposan secara mandiri di lingkungan rumah tangga.
Membangun Kebiasaan Warga
Program EcoComposter tidak berhenti pada pelaksanaan edukasi dan workshop. Sejak kegiatan dimulai pada 8 Agustus 2026, mahasiswa KKN Tematik Kelompok 9 UMJ terus melakukan pendampingan kepada masyarakat untuk mendukung keberlanjutan penggunaan komposter.
Sebagai Ketua RT 07/RW 08 sekaligus mahasiswa KKN, Sahdan berharap program tersebut dapat terus diterapkan oleh masyarakat setelah kegiatan KKN berakhir.
“Harapannya, EcoComposter ini bukan hanya menjadi kegiatan KKN yang selesai setelah acara, tetapi bisa terus digunakan oleh warga. Kita ingin membangun kebiasaan bahwa sampah organik dari rumah bisa kita kelola sendiri dan memiliki manfaat kembali,” ujar Sahdan.
Melalui pendampingan tersebut, mahasiswa KKN bersama warga berupaya membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Program ini tidak hanya berorientasi pada hasil berupa kompos, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.
Kegiatan EcoComposter menjadi bentuk kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam menghadirkan solusi sederhana terhadap persoalan lingkungan.
Warga tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga mendapatkan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
KKN Tematik Kelompok 9 UMJ berharap keberadaan komposter di lingkungan rumah tangga dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan RT 07/RW 08 yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Melalui EcoComposter, mahasiswa menunjukkan bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana. Sampah organik rumah tangga yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang dapat diolah kembali menjadi sumber daya yang bermanfaat.
“Dari sampah organik rumah tangga, kita ubah menjadi manfaat untuk lingkungan,” tutupnya.
Ikuti Whatsapp Channel Republika