REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Pembatalan lokasi penyelenggaraan oleh pihak Universitas Indonesia pada menit-menit terakhir tidak menghentikan Konferensi Republik.
Forum konsolidasi masyarakat sipil itu tetap berlangsung dalam format daring diikuti lebih dari 200 peserta dari ratusan organisasi masyarakat sipil, yang bertahan sepanjang acara dan hingga 150 peserta yang hadir langsung di sebuah cafe di Cikini, Jakarta Pusat.
Baca Juga- Meski Ditolak 37 Lembaga, MUI Tetap Siapkan Naskah Akademik RUU Pemidanaan Pelaku LGBT
- Erdogan: Ideologi Zionis Menargetkan Seluruh Turki
- Trump: Saya Mencegah Erdogan Ikut Berperang Membantu Iran
Setelah hampir lima jam berdiskusi, forum menyepakati tiga mandat yang menjadi tumpuan langkah berikutnya: sebuah platform bersama, desain pengorganisasian, dan pembentukan pengurus perintis.
Ketua Umum Konferensi Republik, Sudirman Said, menyatakan rasa syukur atas energi yang muncul dalam forum dan menyebut antusiasme itu tidak bergeser sedikit pun kendati acara sempat menghadapi dinamika.
"Kalau berkaca pada Konferensi Republik sebelumnya di Yogyakarta, forum ini tidak kalah luar biasa," ujar Said, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Dia menilai watak forum tetap terjaga: tumbuh dari bawah, kolektif, dan partisipasi. Menurutnya, kegelisahan yang merata di berbagai tempat menjadi alasan orang-orang dari tujuh generasi berkumpul, dan momentum itu membutuhkan ruang publik untuk membicarakan persoalan publik.
"Ini untuk mengingatkan bahwa republik ini bukan milik perseorangan," kata Rektor Universitas Harkat Negeri tersebut.
Wakil Ketua Umum, Jaleswari Pramodhawardani, menegaskan pembatalan acara justru tidak menumbuhkan pesimisme. "Hari ini republik tanpa warga begitu terasa," katanya.
Menurut Jaleswari, percakapan sengaja dibuka di ruang publik, bukan di ruang tertutup, agar gagasan-gagasan yang sebenarnya saling terhubung dapat distrukturkan bersama dan dikonkretkan menjadi aksi.
Dia menekankan diskusi tidak berhenti pada upaya merangkum kesamaan, tetapi juga merawat perbedaan, dengan menebalkan hal yang penting dan menyisihkan yang kurang penting.
"Bukan cuma antusiasme, tetapi betapa kita mencintai Indonesia," ujarnya.
Sekretaris Jenderal Konferensi Republik, Yanuar Nugroho, menjelaskan dua hasil pertama forum.
Platform menjadi cara menyatukan banyak pihak yang berbeda, sementara desain organisasinya berbentuk jejaring yang menghubungkan banyak aktor dari latar berbeda di bawah tujuan yang sama, bukan struktur pusat yang memiliki cabang.
Dia menggambarkan kegelisahan yang serupa muncul di kalangan mahasiswa, profesional, dan anak muda, dan jejaring inilah yang hendak menghubungkan mereka. "Anda tidak sendirian," kata Yanuar.
Pada hasil ketiga, Yanuar menyoroti model kepemimpinan. "Ini bukan tentang siapa, tetapi tentang bagaimana," ujarnya.
Kepemimpinan yang dimaksud bersifat institusional, dikerjakan secara kolektif, dan berpijak pada nilai, la menilai terlalu lama publik dibiarkan pada kepemimpinan yang pragmatis dan egosentrik, dan forum ini mengajukan alternatif.
"Tujuannya mengembalikan warga negara menjadi subjek, bukan objek," kata Yanuar, yang menyebut seluruh pembahasan berlangsung dalam semangat mencari terobosan dan gotong royong lintas generasi, sektor, dan aktor.
Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia Unsur Mahasiswa yang menjadi kolaborator acara, Razaan Bayu Rachman, menilai masyarakat membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini, ruang intelektual yang mempertemukan semangat yang sama dari berbagai kalangan.
Dia berharap Konferensi Republik menginspirasi lahirnya forum-forum serupa yang membuka diskusi bagi seluruh elemen masyarakat sipil.
Menurut Razaan, seluruh peserta forum memancarkan semangat yang sama untuk Indonesia yang lebih baik.
"Kita punya tujuan yang sama, dan kita butuh wacana perubahan yang lebih konkret lagi," ujarnya.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika