JAKARTA – Konsumen perlu lebih cermat memeriksa kualitas air minum karena kejernihan saja tidak cukup menjadi indikator keamanan dan higienitas. Sumber air, proses pengolahan, kebersihan kemasan, pengujian kualitas, penyimpanan, hingga keterlacakan produk menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan sebelum dikonsumsi.
Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) Kementerian Kesehatan pada 2023 mencatat akses masyarakat Indonesia terhadap air minum yang layak dikonsumsi baru mencapai 20,49 persen. Angka tersebut menunjukkan pentingnya literasi konsumen dalam memahami kualitas air minum yang digunakan sehari-hari.
Baca Juga
Nutrition Design & Hydration Science Research and Innovation Aqua Tria Rosemiarti mengatakan, konsumen kerap menilai kualitas air hanya dari tampilan fisiknya. Padahal, ada sejumlah faktor lain yang perlu diperiksa untuk memastikan mutu air tetap terjaga.
“Kita sering kali melihat air hanya dari kejernihannya. Padahal, ada banyak aspek lain yang perlu diperhatikan untuk memastikan kualitas air minum,” kata Tria dalam siaran pers, Selasa (27/10/2026).
Menurut dia, konsumen perlu memperhatikan identitas produsen, label, izin edar, kondisi kemasan, dan tutup produk. Keterlacakan juga penting agar konsumen dapat mengetahui sumber air, proses pengolahan, serta pihak yang bertanggung jawab terhadap produk tersebut.
Dokter spesialis anak Mayapada Hospital Jakarta Timur Marlina Tanjung mengatakan, kualitas dan higienitas air minum penting terutama bagi anak-anak. Kontaminasi mikrobiologis maupun logam berat yang tidak terlihat dapat berdampak terhadap kesehatan dalam jangka pendek maupun panjang.
“Hidrasi bukan hanya soal cukup minum, tetapi juga memastikan air yang dikonsumsi bersih dan higienis. Air minum yang tidak terjaga higienitasnya dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, yang pada anak dapat mengganggu asupan dan penyerapan nutrisi serta berdampak pada proses tumbuh kembang,” ujar Marlina.
Jurnal Safe Drinking Water and Its Impact on Children’s Growth and Development: A Systematic Review menyebut gangguan kesehatan pencernaan dapat memengaruhi asupan dan penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Kondisi tersebut disebut berpotensi meningkatkan risiko stunting hingga 4,14 kali lebih tinggi.
Edukasi terhadap keluarga juga dilakukan melalui pendekatan yang melibatkan anak dan orang tua. Anak dapat diajak mengenali asal air, membaca label, memperhatikan kemasan, serta memahami pentingnya kualitas produk yang dikonsumsi.
Marketing Director Aqua Adisti Nirmala mengatakan, rasa ingin tahu anak dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan konsumsi yang lebih cermat sejak dini. Menurut dia, keterlibatan anak dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan keseharian.
“Anak-anak saat ini tumbuh dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Kami ingin menjadikan rasa ingin tahu tersebut sebagai sesuatu yang positif dengan mengajak anak dan orang tua bersama-sama memahami apa yang mereka konsumsi setiap hari,” ujar Adisti.
Konsumen juga diingatkan untuk memeriksa kemasan secara menyeluruh, terutama untuk produk galon yang dapat digunakan kembali. Pemeriksaan dapat dilakukan pada bagian tutup, label, kondisi galon, serta kecocokan kode produksi pada badan galon dan tutup.
Dalam proses produksi, pengujian kualitas disebut mencakup hingga 400 parameter serta tahapan screening, sterilisasi, dan sanitasi. Informasi semacam ini menjadi salah satu hal yang dapat diperhatikan konsumen untuk memahami bagaimana kualitas produk dijaga.
Hospital Director Mayapada Hospital Jakarta Timur Dina Hanum mengatakan, kualitas air minum menjadi salah satu unsur yang mendukung kesehatan keluarga. Edukasi dinilai penting agar masyarakat terbiasa memeriksa produk yang dikonsumsi, bukan hanya berdasarkan kebiasaan atau tampilan.
Literasi konsumsi dapat mulai dibangun dari rumah dengan melibatkan anak dalam kebiasaan sederhana. Orang tua dapat mengajak anak melihat label, mengenali kemasan, dan bertanya mengenai asal produk.
Ikuti Whatsapp Channel Republika