Nasional

Krisis Apache dan Dilema Ketergantungan dengan AS, Ketika Persenjataan Israel Mulai Tergerus

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Sebelum 7 Oktober 2023, Angkatan Udara Israel bersiap mengurangi armada helikopter Apache dan menutup salah satu dari dua skuadronnya. Saat itu, mereka menilai masa depan kekuatan udara lebih...

13 Agustus 2026, pukul 10:44 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Sebelum 7 Oktober 2023, Angkatan Udara Israel bersiap mengurangi armada helikopter Apache dan menutup salah satu dari dua skuadronnya.

Saat itu, mereka menilai masa depan kekuatan udara lebih bertumpu pada pesawat tempur siluman dan drone.

Baca Juga

Namun, kurang dari tiga tahun kemudian, situasinya berbalik. Militer Israel kini mendesak pembelian 12 helikopter Apache secara mendesak, sementara kebutuhan pembangunan kekuatan mereka diperkirakan mencapai sekitar 30 Apache baru.

Perkiraan lain bahkan menyebut kebutuhan untuk membentuk tiga skuadron dengan sedikitnya 50 helikopter.

Perubahan drastis tersebut menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar transaksi pembelian yang tersendat.

Krisis ini merupakan gabungan dari beberapa faktor penyebab antara lain armada yang menua, kekurangan jumlah akibat keputusan sebelum perang, dan tingginya intensitas operasional dalam jangka panjang.

Selain itu persoalan pendanaan serta ketergantungan yang sangat besar pada Amerika Serikat, yang menguasai platform Apache, lini produksinya, suku cadangnya, dan ketentuan pengirimannya.

Aljazeera pada Kamis (13/8/2026), melansir laporan wartawan militer Yedioth Ahronoth, Yoav Zitun, pada 22 November 2024 mengungkap besarnya perubahan tersebut.

Setelah skuadron helikopter Cobra ditutup, Angkatan Udara Israel hanya memiliki dua skuadron Apache, yakni Skuadron 113 dan 190.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait