REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Sebuah organisasi yang berbasis di Israel memuji Arab Saudi setelah kerajaan tersebut menghapus frasa “umat Islam tidak akan pernah menyerahkan Yerusalem” dari buku-buku pelajaran sekolah.
Langkah itu dinilai sebagai bagian dari upaya untuk mengubah cara Arab Saudi mengajarkan Islam, Palestina, dan Israel dalam kurikulumnya.
Baca Juga- Ayat Kursi Jika Dibedah Ternyata Terdiri dari 10 Kalimat Penuh Makna, Berikut Penjelasannya
- Krisis Apache dan Dilema Ketergantungan dengan AS, Ketika Persenjataan Israel Mulai Tergerus
- Lebanon Berbeda, Pelajaran yang Selalu Gagal Dipahami Israel Selama 100 Tahun
Kelompok riset Israel, Impact-se, menerbitkan kajiannya terhadap kurikulum Arab Saudi pada akhir Juli 2026.
“Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa kendali atau keberadaan Muslim di Yerusalem sedang berada di bawah ancaman,” kata laporan tersebut, dikutip dari The Middle Eye, Selasa (18/8/2026).
Menurut Impact-se, rujukan itu “dapat ditafsirkan sebagai penggambaran Yerusalem sebagai tempat berlangsungnya konflik yang terus-menerus antara umat Islam dan kelompok lain, khususnya Israel.”
Kritik tersebut muncul ketika para politisi Israel secara rutin menyerukan penghancuran Masjid Al-Aqsa, salah satu tempat suci utama dalam Islam, dan pembangunan kuil Yahudi di lokasi tersebut.
Pada Senin (17/8/2026) lalu, otoritas Israel secara resmi mengizinkan para pemukim Israel melaksanakan ibadah atau doa Yahudi di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki.
Langkah tersebut dinilai sebagai tindakan provokatif yang semakin melanggar dan mengikis status quo yang telah berlaku di tempat suci tersebut selama puluhan tahun.
Dengan dukungan pemerintah Israel, para pemukim juga terus membangun permukiman di tanah Palestina dengan tujuan mengubah karakter demografis Yerusalem.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika