REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Kota Bekasi diproyeksikan mampu mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah setiap tahun. Kapasitas tersebut setara dengan sekitar 70 persen timbulan sampah yang dihasilkan di Kota Bekasi.
Proyek ini menjadi bagian dari upaya mempercepat penanganan persoalan sampah sekaligus mengubahnya menjadi sumber energi. PSEL Kota Bekasi juga diproyeksikan mampu mengurangi kebutuhan lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) hingga sekitar 90 persen.
“Peresmian Pembangunan PSEL hari ini menandai hadirnya solusi nyata untuk menjawab tantangan darurat sampah di Indonesia dan secara terkhusus di Kota Bekasi,” ujar Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir dalam agenda Peresmian Pembangunan PSEL Kota Bekasi, dikutip Jumat (28/8/2026).
Pandu mengatakan, proyek tersebut diharapkan menciptakan nilai lingkungan, energi, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. PSEL Kota Bekasi juga diproyeksikan menghasilkan hampir 1.000 lapangan kerja hijau serta menyediakan energi bersih bagi puluhan ribu rumah tangga.
Proyek senilai sekitar Rp3 triliun itu juga ditargetkan mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara karbon dioksida (CO2) setiap tahun. Pembangunan PSEL tersebut merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Danantara Indonesia, PT PLN (Persero), dan sejumlah pemangku kepentingan.
Dari sisi energi, PSEL Kota Bekasi memiliki kapasitas netto 27,4 megawatt (MW). Fasilitas tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 223.584 megawatt hour (MWh) listrik per tahun atau setara dengan kebutuhan listrik sekitar 55 ribu rumah tangga berdaya 450 volt ampere (VA).
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah tersebut akan kembali dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Bekasi. PLN telah menandatangani Sponsors Agreement dan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dalam rangka mendukung pembangunan proyek tersebut.
“Demand listrik di Bekasi cukup tinggi. Maka, kita mendedikasikan listrik dari PSEL Bekasi ini untuk masyarakat Bekasi. Jadi, sampah Kota Bekasi masuk ke sini, kemudian listrik yang dihasilkan kita pasok kembali ke Kota Bekasi,” kata Darmawan.
Menurut Dirut PLN, pembangunan PSEL tidak semata-mata berorientasi pada produksi listrik. Tujuan utama proyek tersebut adalah membantu menyelesaikan persoalan sampah dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, percepatan pembangunan proyek waste to energy sebelumnya menghadapi persoalan regulasi dan perizinan yang rumit. Pemerintah kini merapikan berbagai aturan untuk mempercepat pelaksanaan proyek pengolahan sampah menjadi energi.
“Kalau sampah saja kita tidak bisa urus, bagaimana kita mengurus yang lebih besar. Itu perintah Pak Presiden,” ujar Zulkifli atau yang akrab disapa Zulhas.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berharap pembangunan PSEL Kota Bekasi dapat segera berjalan dan menjawab kebutuhan masyarakat terhadap sistem pengelolaan sampah lebih baik. Ia juga mengingatkan pentingnya perubahan perilaku masyarakat agar persoalan sampah dapat ditangani dari hulu hingga hilir.
PSEL Kota Bekasi diharapkan tidak hanya mengurangi ratusan ribu ton sampah yang selama ini menjadi persoalan, tetapi juga mengubahnya menjadi energi yang dapat kembali dimanfaatkan masyarakat. Dengan pengolahan hingga lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun, proyek ini menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap TPA sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
Ikuti Whatsapp Channel Republika