REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat mengembalikan hubungan persahabatan antara manusia dan alam sebagai bagian dari pertobatan ekologis. Menurutnya, alam tidak semestinya dipandang hanya sebagai objek untuk dieksploitasi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga demi kesejahteraan bersama.
“Kalau ingin selamat, tidak ada cara lain, kecuali kita mengembalikan konsep persahabatan kita dengan alam,” kata Nasaruddin dalam deklarasi “Tobat Ekologis Menuju Sekolah Berbudaya Lingkungan” di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Baca Juga- Seskab Teddy: 60.000 Personel Gabungan Dikerahkan Padamkan Karhutla di Kalteng dan Sumsel
- Jelang Pemilu AS, Agen Federal Geledah Rumah Ilhan Omar
- Erick Thohir Dorong Transparansi Pemilihan Pimpinan Organisasi Pemuda Cegah Dualisme
Deklarasi tersebut dicanangkan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Gerakan ini melibatkan 2.649 sekolah di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota untuk mendorong perubahan perilaku serta aksi pemulihan lingkungan selama 30 hari ke depan.
Nasaruddin mengatakan, pertobatan ekologis merupakan langkah yang tidak boleh ditunda. Namun, Ia mengingatkan tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan manusia dengan lingkungan. “Pertobatan ekologis ini sesuatu yang tidak boleh terlambat, tapi tidak ada kata terlambat untuk bertobat,”kata dia.
Ia menjelaskan, masyarakat pada masa lampau memiliki kedekatan dengan alam yang memungkinkan mereka memahami perubahan lingkungan melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Kedekatan tersebut, kata dia, menjadi bagian dari kearifan yang perlu dipelajari kembali di tengah perkembangan teknologi modern.
Nasaruddin mencontohkan, masyarakat pesisir Nusantara yang memiliki pengetahuan mengenai kondisi laut dan perubahan cuaca berdasarkan pengamatan terhadap alam. Pengetahuan itu membantu mereka menentukan waktu yang aman untuk melaut.
Warga membawa selada laut (Ulva spp) di Desa Bajo Mola Nelayan Bakti, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Sabtu (3/10/2026). Perempuan bajo yang bermukim di wilayah itu setiap harinya mampu mengumpulkan hingga lima kilogram selada laut disekitar rumahnya dan dijual ke pengepul dengan harga Rp4 ribu per kilogram untuk diolah menjadi cemilan serta bahan baku pembuatan pakan ikan nasional karena memiliki kandungan protein dan nutrisi tinggi. - (ANTARA FOTO/Andry Denisah)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika