REPUBLIKA.CO.ID, Houthi, yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah (Penolong Allah), mengejutkan publik setelah rudal-rudalnya mampu menembus pertahanan udara Arab Saudi.
Houthi menghantam Bandara Internasional Riyadh pada Sabtu(10/10/2026) lalu, menewaskan 13 orang dan melukai ratusan lainnya. Pada Ahad, serangan susulan kembali memakan korban jiwa dengan satu orang tewas dan hampir lusinan korban lainnya mengalami luka-luka.
Baca Juga- Menjemput Rezeki
- Sila, Bocah Gaza yang Berjuang Melangkah dengan Kaki Palsu
- KPK Agendakan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
Siapa sebenarnya kelompok Houthi? Houthi merupakan kelompok bersenjata yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, beserta sejumlah kawasan di bagian barat dan utara yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi.
Houthi mulai muncul pada dekade 1990-an, namun baru menjadi sorotan internasional pada 2014 ketika mereka memberontak terhadap pemerintah Yaman. Pemberontakan tersebut memaksa pemerintah mundur dan memicu krisis kemanusiaan yang parah di negara itu, dilansir dari laman Middle East Eye.
Dengan dukungan Iran, kelompok ini bertempur melawan koalisi militer pimpinan Arab Saudi. Kedua belah pihak yang berseteru telah berulang kali berupaya menggelar perundingan damai. Kendati demikian, para analis menilai kelompok Syiah Zaidiyah ini tidak bisa disikapi sekadar sebagai perpanjangan tangan (proxy) Iran. Mereka memiliki basis massa, kepentingan, serta ambisinya sendiri.
Militan Houthi di sebuah pos militer usai menguasai kota pelabuhan Mokha, Yaman yang berdekatan dengan Selat Bab al-Mandeb. Foto dirilis ke media pada 13 September 2026. - (EPA/Houthi Military Handout)
Sejarah dan akar gerakan
Mendeklarasikan diri dengan nama Ansar Allah, gerakan ini muncul di wilayah utara Yaman pada 1990-an di bawah pimpinan ulama Hussein al-Houthi. Gerakan ini berakar dari ajaran Zaidiyah, salah satu cabang Syiah yang pengikutnya menjadi minoritas di Yaman dan terpusat di wilayah pegunungan utara.
Kelompok ini pernah terlibat dalam enam gelombang peperangan melawan pemerintah mantan Presiden Ali Abdullah Saleh antara tahun 2004 hingga 2010. Hussein al-Houthi tewas pada pertempuran gelombang pertama, yang kemudian kepemimpinannya diteruskan oleh saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi, yang memimpin gerakan hingga saat ini.
Pejuang Houthi berhasil merebut Sanaa pada September 2014. Pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer masuk ke Yaman untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional—yang sebagian besar menjalankan roda pemerintahan dari Riyadh dan kota Aden di selatan Yaman. Saat gencatan senjata dicapai pada 2022, Houthi menguasai sekitar 30 persen wilayah Yaman yang dihuni oleh hampir 80 persen dari total populasi negara tersebut.
Abdul Malik Houthi - (tangkapan layar)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika