REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA — Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan pada Sabtu(8/8/2026), berharap Mesir segera bergabung dalam perjanjian pertahanan bersama dengan mitra regional guna memperkuat stabilitas di Asia Barat.
Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan telah menandatangani perjanjian tersebut pada Jumat di tengah berkecamuknya perang Amerika Serikat melawan Iran. Konflik bersenjata itu telah menyeret negara-negara di kawasan dan mengganggu jalur pelayaran vital di Selat Hormuz serta Laut Merah.
Baca Juga- Mesir Siap Kerahkan Kekuatan Penuh Tolak Pemindahan Paksa Warga Gaza
- Di Mana Allah Meletakkan Ridha dan Murka?
- Apakah Istri akan Bersama dengan Suaminya di Surga Kelak dalam Satu Kedudukan?
Dalam wawancara dengan kantor berita resmi Anadolu, Fidan optimistis Mesir akan segera bergabung dalam kesepakatan yang secara resmi dinamai Mecca Joint Defense Agreement (Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah) atau yang lazim disebut publik sebagai NATO Muslim. Ia menyebut Kairo sebagai "mitra alami dalam segala isu".
Pesawat jet tempur KAAN yang dikembangkan Turki bersama sejumlah negara Muslim. - (TAI)
"Saya percaya pada tahap berikutnya Mesir juga akan menjadi bagian dari aliansi kami. Saat ini pun kami sudah saling bertindak seolah-olah kami adalah anggota aliansi," ujar Fidan.
"Hanya ada beberapa masalah teknis. Begitu hal tersebut diselesaikan, tidak ada alasan bagi Mesir untuk tidak menjadi bagian dari perjanjian ini,"kata dia.
Fidan menegaskan, pakta pertahanan ini tidak ditujukan untuk menargetkan negara mana pun. "Tidak ada ancaman bersama yang kami tuangkan secara tertulis," tegas Fidan.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan pada Jumat bahwa pakta ini mengusung prinsip kolektif: serangan terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Langkah ini dimaksudkan untuk memperkuat daya tangkal bersama (collective deterrence).
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika