Nasional

Minta Netanyahu Akui Kemerdekaan Palestina, Sisi: Picu Stabilitas Berkelanjutan di Kawasan

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO — Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menyatakan telah berulang kali menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa pembentukan negara Palestina akan membawa kedamaian dan memberikan manfaat bagi...

15 Oktober 2026, pukul 23:04 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO — Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menyatakan telah berulang kali menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa pembentukan negara Palestina akan membawa kedamaian dan memberikan manfaat bagi semua pihak.

Berbicara dalam upacara kelulusan Akademi Kepolisian tahun 2026 di New Cairo, Kamis(15/10/2026), Sisi menegaskan bahwa dalam setiap pertemuan dan komunikasi dengan Netanyahu sejak 2014, ia terus menekankan hal tersebut. "Pendirian negara Palestina akan menguntungkan semua pihak dan memicu perdamaian serta stabilitas yang berkelanjutan di kawasan,"ujar Sisi.

Baca Juga

Netanyahu, yang kini buron atas tuduhan kejahatan perang oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait agresi di Gaza, berulang kali menolak pembentukan negara Palestina sebagaimana yang diamanatkan dalam resolusi-resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dalam Debat Umum sesi ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) di Markas Besar PBB di New York, New York, AS, 24 September 2026. - (EPA/LEV RADIN)

Negara Zionis Israel didirikan pada 1948 di atas tanah Palestina yang direbut oleh kelompok-kelompok bersenjata Zionis melalui pembantaian dan pengusiran sedikitnya 750 ribu warga Palestina. Israel kemudian menduduki sisa-sisa wilayah Palestina pada 1967 dan menolak untuk mundur hingga saat ini.

Sisi menegaskan bahwa "stabilitas Sudan, Libya, dan Jalur Gaza merupakan syarat mutlak bagi keamanan nasional Arab dan Mesir."

Ia memperingatkan bahwa kawasan Timur Tengah sedang mengalami "perubahan geopolitik yang besar dan mendalam" yang akan membawa dampak luas.

"Mesir dan Arab Saudi adalah jantung dari bangsa Arab dan dunia Islam," kata Sisi. "Segala ancaman terhadap salah satu negara akan berdampak pada negara lainnya. Karena itu, penegasan bahwa keamanan nasional Mesir, Arab Saudi, dan negara-negara Teluk Arab saling berkaitan adalah hal yang tepat."

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait