REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Sebuah panggilan konferensi antara pejabat penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) dengan seratusan investor mengungkap suasana keterkejutan para investor atas peringatan dari penyedia indeks tersebut kepada pasar saham Indonesia. Dalam laporan Bloomberg, Kamis (22/10/2026), Managing Director MSCI, Raman Aylur Subramanian, menyatakan, bahwa kasus Indonesia bukanlah masalah indeks, melainkan masalah pasar.
Menurut Subramanian dalam panggilan konferensi itu, reformasi diperlukan untuk menyingkirkan "pihak-pihak yang berperilaku buruk (bad actors)". Pernyataan Subramanian membuat satu hal menjadi jelas, saat Indonesia berkejaran dengan waktu untuk mencegah penurunan dua kali status pasar saham mereka, Indonesia perlu meyakinkan MSCI dan investor global bahwa mereka bisa meregulasi secara efektif pasar sahamnya.
Baca Juga- Bahlil Pertimbangkan Setop Ekspor Gas ke Negara yang tak Hargai Indonesia
- Francesca Albanese Ajak Indonesia Pimpin Gerakan Boikot Produk Israel
- Umumkan Rudal Baru, Iran akan Gunakan 'Bapak dari Segala Bom' Jika AS-Israel Kembali Menyerang
Peringatan dari MSCI pada pekan lalu eksplisit bahwa aturan-aturan baru saja tidak cukup untuk membalikkan keadaan. Dengan sedikit waktu yang dimiliki Indonesia yakni hingga Juni 2027, tantangan bagi para pemegang kebijakan di Indonesia adalah untuk membangun suatu penegakan hukum yang meyakinkan, mengungkap kepemilikan yang tidak transparan, menyelidiki perdagangan yang mencurigakan, serta menjatuhkan sanksi tegas termasuk terhadap perusahaan-perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan sejumlah kelompok bisnis paling berpengaruh di negara tersebut.
Tugas dari MSCI untuk Indonesia dinilai sangat berat, mengingat posisi Indonesia di pasar global sedang dipertaruhkan. Perubahan status menjadi pasar mandiri (standalone market) akan mengeluarkan Indonesia bahkan dari kategori pasar perbatasan (frontier market) menurut penyedia indeks, yang berpotensi memicu arus keluar modal hingga miliaran dolar. Hal ini terjadi setelah investor global mencatatkan penjualan bersih saham lokal senilai 5,3 miliar dolar AS sepanjang tahun ini—angka yang diprediksi akan menjadi arus keluar terbesar yang pernah tercatat.
Lihat postingan ini di InstagramLoading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara