REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyikapi fenomena menyempitnya ruang sipil dalam mengawal kebijakan, platform Muda Bicara ID secara resmi meluncurkan program nasional "Muda Bicara Kebijakan 2026". Platform tersebut juga sebagai respons atas maraknya ancaman represi bagi kelompok muda yang kritis.
Mengusung tema "Reimajinasi Demokrasi: Kolaborasi Orang Muda untuk Kebijakan Masa Depan", forum itu menjadi strategis atas potret buram pengabaian suara pemuda yang kerap diidentikkan hanya sebagai komoditas politik lima tahunan. Laporan Survei Nasional Muda Bicara ID mengungkap, saat ini, lahir fenomena spiral of silence.
Baca Juga- Survei LSI: Sebanyak 95,4 Persen Publik Puas Kinerja Dedi Mulyadi
- Mensesneg Prasetyo: Kerja Pemerintah Berorientasi Rakyat, Bukan Kejar Hasil Survei
- Prabowo Perintahkan Dirut KAI dan Menhub Bangun Jalur Kereta di Sumatra dan Kalimantan
Maksudnya, mayoritas anak muda dibayangi rasa takut saat bersuara, mencapai 32,27 persen, dengan responden takut dikriminalisasi atau direpresi. Pun di angka 26,82 persen responden mengaku pernah mengalami intimidasi serta ancaman.
Di sisi lain, survei juga mencatat tingkat ketidakpuasan (rapor merah) yang tinggi dari kaum muda terhadap kebijakan pemerintah saat ini. Founder Muda Bicara ID Moch Edward Trias Pahlevi menjelaskan, rapor merah itu terutama di bidang ketenagakerjaan dan lapangan kerja 53,60 persen serta penegakan hukum dan keadilan 53,42 persen.
Selain itu, sebesar 61,90 persen pemuda mengidentifikasi tekanan ekonomi dan ketidakpastian karier di tengah gempuran gig economy sebagai pemicu stres utama yang mengancam masa depan mereka. "Kita tidak boleh membiarkan generasi yang mendominasi demografi bangsa terjebak dalam rasa takut dan apatisme," kata Edward dalam peluncuran secara daring di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika