REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Konfrontasi yang semakin sengit antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang sangat kompleks dan berbahaya setelah berakhirnya masa 60 hari yang terkait dengan kesepakatan gencatan senjata semu yang dicapai pada Juni lalu.
Hingga kini, tidak terlihat kemajuan diplomatik yang berarti, tetapi kedua pihak juga belum sepenuhnya terjerumus ke dalam perang militer terbuka.
Baca Juga- Lebanon Berbeda, Pelajaran yang Selalu Gagal Dipahami Israel Selama 100 Tahun
- Krisis Apache dan Dilema Ketergantungan dengan AS, Ketika Persenjataan Israel Mulai Tergerus
- Laporan: Saudi Hapus Frasa 'Umat Islam tak akan Pernah Serahkan Yerusalem' dari Kurikulum
Dalam situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan apa yang disebutnya sebagai “Hari Pendaratan Ekonomi” untuk menekan Teheran agar melepaskan kendalinya atas Selat Hormuz dan menerima persyaratan Washington.
Di sisi lain, para pemimpin Iran berusaha menunjukkan ketahanan dan membuktikan bahwa mereka mampu menghadapi tekanan serta sanksi.
Kondisi ini menyeret kawasan dan perekonomian global ke dalam situasi saling menguji kekuatan yang sulit diprediksi. Aljazeera, dikutip Sabtu (22/8/2026), menerbitkan laporan mendalam tentang eskalasi yang terjadi saat ini antara kedua negara.
Menurut New York Times, Washington bertaruh bahwa pengetatan tekanan ekonomi akan berhasil setelah serangan militer sebelumnya gagal mencapai tujuannya.
Terlebih lagi, Trump telah menegaskan akan menjatuhkan konsekuensi ekonomi yang sangat berat kepada siapa pun yang melakukan transaksi dengan Iran.
Yeganeh Torbati, koresponden New York Times yang mengkhususkan diri pada isu Iran, mengatakan Amerika Serikat dan Iran kini berada dalam situasi stagnan. Perhitungan politik dan kemungkinan kesalahan kalkulasi tampak semakin menonjol di kedua belah pihak.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika