Nasional

Nilai Tukar Rupiah dan Harga Mahal Kepercayaan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mata uang pada akhirnya bukan hanya persoalan ekonomi. Ia adalah persoalan kepercayaan. Ketika masyarakat percaya bahwa perekonomian akan tumbuh, mereka berani berinvestasi, membuka usaha, membeli rumah,...

30 Juni 2026, pukul 02:11 WIB · dibaca 0 kali

Oleh: Suwatno, Guru Besar Komunikasi Organisasi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mata uang pada akhirnya bukan hanya persoalan ekonomi. Ia adalah persoalan kepercayaan. Ketika masyarakat percaya bahwa perekonomian akan tumbuh, mereka berani berinvestasi, membuka usaha, membeli rumah, dan merencanakan masa depan.

Ketika pelaku pasar yakin bahwa pemerintah memiliki arah kebijakan yang jelas dan institusi publik bekerja secara kredibel, modal akan mengalir dan aktivitas ekonomi bergerak dengan optimisme. Sebaliknya, ketika kepercayaan mulai melemah, kehati-hatian berubah menjadi kecemasan, optimisme berubah menjadi spekulasi, dan pasar bergerak dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Kenneth Arrow, peraih Nobel Ekonomi, menjelaskan bahwa kepercayaan merupakan salah satu fondasi yang memungkinkan sistem ekonomi dan sosial bekerja secara efektif. Dalam dunia modern yang semakin kompleks, kepercayaan bukan sekadar nilai moral, melainkan aset ekonomi yang sangat menentukan.

Barangkali itulah yang patut kita renungkan ketika rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut bukan sekadar catatan statistik. Ia adalah sinyal yang menyampaikan pesan lebih dalam tentang bagaimana pasar memandang kondisi ekonomi Indonesia hari ini dan bagaimana mereka menilai masa depan Indonesia.

Tentu saja, pelemahan rupiah tidak terjadi dalam ruang hampa. Ketidakpastian global masih membayangi perekonomian dunia. Konflik geopolitik yang berkepanjangan mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu rantai pasok internasional. Pada saat yang sama, kebijakan moneter Amerika Serikat yang relatif ketat membuat dolar AS tetap menjadi tujuan utama investor global. Arus modal internasional pun bergerak menuju aset yang dianggap lebih aman sehingga memberikan tekanan terhadap berbagai mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun pertanyaannya, apakah pelemahan rupiah semata-mata merupakan akibat dari faktor eksternal?

Saya kira tidak sesederhana itu. Dalam beberapa bulan terakhir, pasar tidak hanya berbicara mengenai suku bunga The Federal Reserve atau harga minyak dunia. Investor juga mulai mencermati arah kebijakan ekonomi nasional, kualitas tata kelola institusi publik, serta kemampuan pemerintah menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global. Dengan kata lain, yang sedang dinilai bukan hanya kondisi ekonomi Indonesia saat ini, melainkan juga keyakinan terhadap masa depan Indonesia.

Di sinilah kita perlu memahami bahwa nilai tukar sesungguhnya lebih dari sekadar angka yang bergerak di layar perdagangan. Nilai tukar adalah refleksi kepercayaan.

Pasar tidak pernah menghukum sebuah negara hanya karena menghadapi masalah. Tidak ada negara yang sepenuhnya bebas dari persoalan. Yang menjadi perhatian pasar adalah apakah negara tersebut memiliki kapasitas, kredibilitas, dan konsistensi untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

Pandangan tersebut sejalan dengan teori ekspektasi rasional yang dikembangkan oleh Robert Lucas (1972). Menurut Lucas, pelaku ekonomi tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan kondisi saat ini. Mereka membentuk ekspektasi mengenai masa depan dan bertindak berdasarkan ekspektasi tersebut. Investor tidak sekadar membeli aset. Mereka membeli harapan terhadap masa depan.

Karena itu, pelemahan nilai tukar sering kali merupakan fenomena psikologis sebelum menjadi fenomena ekonomi. Ketika keyakinan terhadap masa depan mulai melemah, pasar bereaksi lebih dahulu bahkan sebelum indikator ekonomi menunjukkan perubahan yang signifikan.

Perspektif ini menjelaskan mengapa dua negara dengan indikator ekonomi yang relatif serupa dapat memperoleh respons pasar yang berbeda. Perbedaannya sering kali tidak terletak pada angka-angka makroekonomi, melainkan pada tingkat kepercayaan yang dimiliki oleh institusi publik masing-masing.

Dalam ekonomi modern, kepercayaan bukan lagi faktor pelengkap. Ia telah menjadi aset strategis. Michael Spence (1973) melalui teori signaling menjelaskan bahwa ketika informasi tidak tersedia secara sempurna, masyarakat dan pasar akan menggunakan berbagai sinyal untuk menilai kualitas suatu institusi. Dalam konteks negara, sinyal tersebut dapat berupa kebijakan ekonomi, kualitas tata kelola pemerintahan, independensi lembaga negara, maupun konsistensi komunikasi publik.

Pasar tidak memiliki akses terhadap seluruh informasi yang tersedia. Karena itu mereka membaca sinyal. Ketika sinyal yang diterima menunjukkan kepastian arah dan konsistensi kebijakan, tingkat kepercayaan akan meningkat. Sebaliknya, ketika sinyal yang muncul ambigu atau bahkan saling bertentangan, ketidakpastian akan membesar.

Benahi Komunikasi Kebijakan

Selama bertahun-tahun komunikasi sering dipandang sekadar sarana menyampaikan informasi kepada publik. Pandangan tersebut kini tidak lagi memadai. Dalam praktik ekonomi kontemporer, komunikasi telah berkembang menjadi instrumen kebijakan itu sendiri.

Kajian-kajian terbaru menunjukkan bahwa komunikasi bank sentral memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi dan mengurangi ketidakpastian pasar. Efektivitas kebijakan moneter tidak hanya ditentukan oleh keputusan yang diambil, tetapi juga oleh kemampuan menjelaskan keputusan tersebut secara jelas, konsisten, dan kredibel kepada publik.

Artinya, kebijakan yang baik belum tentu menghasilkan dampak yang baik apabila gagal dikomunikasikan secara meyakinkan. Sebaliknya, komunikasi yang kredibel dapat memperkuat efektivitas kebijakan bahkan ketika kondisi ekonomi sedang menghadapi tekanan.

Karena itu, tantangan ekonomi Indonesia saat ini bukan semata-mata menjaga stabilitas kurs atau mengendalikan inflasi. Tantangan yang tidak kalah penting adalah menjaga kredibilitas.

Douglass North (1990) mengingatkan bahwa institusi merupakan fondasi utama bagi aktivitas ekonomi. Institusi yang kredibel menciptakan kepastian, menurunkan biaya transaksi, dan meningkatkan kepercayaan. Sebaliknya, institusi yang kehilangan kredibilitas akan meningkatkan ketidakpastian dan memperbesar persepsi risiko.

Namun persoalan kepercayaan tidak berhenti pada dimensi ekonomi. Dalam kehidupan berbangsa, kepercayaan merupakan modal sosial yang memungkinkan masyarakat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Francis Fukuyama (1995) menyebut kepercayaan sebagai salah satu sumber utama kemajuan ekonomi dan kekuatan institusional suatu bangsa.

Tanpa kepercayaan, hubungan antara negara dan warga negara akan dipenuhi kecurigaan. Setiap kebijakan dipandang dengan skeptisisme. Setiap perubahan dianggap ancaman. Setiap gejolak diperbesar oleh rumor dan spekulasi.

Karena itu, menjaga kepercayaan publik sesungguhnya merupakan amanah yang sangat besar. Ia tidak dapat dibangun melalui slogan, pencitraan, atau optimisme yang berlebihan. Kepercayaan hanya dapat dibangun melalui konsistensi antara kata dan tindakan, antara janji dan implementasi, antara narasi dan realitas.

Di tengah tekanan terhadap rupiah saat ini, kita tentu berharap berbagai instrumen ekonomi yang dimiliki pemerintah dan Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas pasar. Namun di atas semua itu, terdapat pekerjaan yang jauh lebih penting, yaitu memastikan bahwa publik dan pelaku pasar tetap memiliki keyakinan terhadap arah perjalanan bangsa ini.

Sebab pada akhirnya, mata uang bukan sekadar alat tukar. Ia adalah simbol keyakinan kolektif terhadap masa depan.

Ketika rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, yang sedang diuji bukan hanya ketahanan ekonomi Indonesia. Yang sedang diuji adalah seberapa besar kepercayaan yang masih dimiliki bangsa ini terhadap institusi, kebijakan, dan masa depannya sendiri.

Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa bangsa yang mampu menjaga kepercayaan akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi krisis. Sebaliknya, ketika kepercayaan mulai memudar, bahkan fondasi ekonomi yang tampak kokoh dapat kehilangan penyangga terpentingnya.

Karena itu, di tengah gejolak kurs yang terus menyita perhatian, mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah sampai di mana rupiah akan melemah. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa kuat kita menjaga kepercayaan yang selama ini menopang nilainya?

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Lihat di situs asli

Berita terkait