LOMBOK -- Penurunan harga saham di tengah tekanan pasar modal tidak selalu membuat investor memilih menjual kepemilikannya. Sebagian investor justru memanfaatkan momentum tersebut untuk membeli saham-saham berfundamental kuat dengan harga lebih murah.
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agus Firmansyah mengatakan, investor yang mampu membaca kondisi pasar tidak mudah terbawa kepanikan ketika harga saham mengalami koreksi.
Baca Juga- OJK Ungkap Saham Bank Besar Diborong Investor Saat Harga Terkoreksi
- OJK Rilis Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan PPDP 2026–2031
- OJK Benahi Mekanisme HSC, Libatkan Investor hingga Akademisi
Dia mencontohkan kondisi pasar pada 19 dan 20 Oktober lalu. Saat itu, sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), ikut mengalami penurunan harga.
“Investor yang cerdas dia pasti akan beli. Karena kemarin tekanannya itu kan hanya sentimen saja, kaget, panik, panic selling. Investor yang cerdas pada beli,” kata Agus dalam Capital Market Journalist Workshop Media Gathering 2026 di Lombok, Sabtu (31/10/2026) malam.
Menurut dia, penurunan harga saham tersebut justru dimanfaatkan sebagian investor untuk mengakumulasi saham perusahaan yang dinilai memiliki fundamental kuat. Kondisi ini juga terlihat dari respons komunitas investor saham yang memilih membeli ketika harga sedang terkoreksi.
Agus mengatakan, perilaku investor asing juga tidak sepenuhnya didominasi aksi jual. Meskipun secara keseluruhan investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell, transaksi harian tetap menunjukkan adanya investor asing yang melakukan pembelian.
“Memang banyaknya yang jual sehingga net-nya masih net sell. Sehingga total sampai dengan Oktober itu selama Januari ada net sell sekitar Rp 97 triliun. Tapi secara hariannya ada yang beli, ada yang jual,” ungkapnya.
Dia menambahkan, investor asing yang memiliki analisis teknikal dan mampu membaca pergerakan pasar juga berpeluang memanfaatkan penurunan harga untuk membeli saham. Agus menilai, tekanan di pasar saham perlu dilihat secara lebih menyeluruh. Aksi jual bersih investor asing tidak berarti seluruh investor asing meninggalkan pasar modal Indonesia. Sebab, pada saat bersamaan tetap terdapat transaksi pembelian.
Di tengah kondisi tersebut, investor perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan dan prospek jangka panjang sebelum mengambil keputusan investasi. Penurunan harga saham tidak otomatis menjadikannya murah atau layak dibeli karena setiap saham memiliki risiko dan karakteristik berbeda.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika