LOMBOK -- Koreksi harga saham di tengah tekanan pasar modal dimanfaatkan sebagian investor untuk mengakumulasi saham perusahaan berfundamental kuat. Aksi beli tersebut terjadi ketika sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk saham perbankan, mengalami penurunan harga pada Oktober 2026.
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agus Firmansyah mengatakan, investor yang mampu membaca kondisi pasar tidak selalu merespons koreksi dengan aksi jual. Sebagian justru melihat penurunan harga sebagai peluang untuk membeli saham yang dinilai memiliki prospek jangka panjang.
Baca Juga- BEI Nilai Saham Syariah Lebih Tahan Gejolak
- Bagian dari Pembenahan, BEI Janji Umumkan Saham yang Terindikasi Dimanipulasi
- BEI: Hanya Indonesia-India Buka Data Pemegang Saham di Atas 1 Persen
Agus mencontohkan pergerakan pasar pada 19 dan 20 Oktober 2026. Saat itu, sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), turut mengalami penurunan harga.
“Investor yang cerdas dia pasti akan beli. Karena kemarin tekanannya itu kan hanya sentimen saja, kaget, panik, panic selling. Investor yang cerdas pada beli,” kata Agus dalam Capital Market Journalist Workshop Media Gathering 2026 di Lombok, Sabtu (31/10/2026) malam.
Menurut Agus, koreksi harga tersebut dimanfaatkan sebagian investor untuk mengakumulasi saham perusahaan yang dinilai memiliki fundamental kuat. Respons pembelian juga terlihat di kalangan komunitas investor saham ketika harga sejumlah emiten mengalami penurunan.
Di sisi lain, pergerakan investor asing juga tidak sepenuhnya didominasi aksi jual. Meskipun secara kumulatif mencatatkan jual bersih (net sell), transaksi harian masih memperlihatkan adanya investor asing yang melakukan pembelian saham di pasar domestik.
“Memang banyaknya yang jual sehingga net-nya masih net sell. Sehingga total sampai dengan Oktober itu selama Januari ada net sell sekitar Rp97 triliun. Tapi secara hariannya ada yang beli, ada yang jual,” ungkap Agus.
Agus menambahkan, investor asing yang memiliki analisis teknikal dan mampu membaca pergerakan pasar juga berpeluang memanfaatkan koreksi harga untuk melakukan pembelian. Dengan demikian, angka jual bersih secara keseluruhan tidak serta-merta menunjukkan seluruh investor asing menarik dananya dari pasar modal Indonesia.
Menurut dia, kondisi pasar perlu dilihat dengan memperhatikan aktivitas transaksi secara menyeluruh, baik dari sisi pembelian maupun penjualan. Perbedaan strategi dan pertimbangan investasi membuat respons setiap investor terhadap tekanan pasar tidak selalu sama.
Meski demikian, penurunan harga saham tidak otomatis menjadikannya murah atau layak dibeli. Investor tetap perlu memperhatikan kondisi fundamental perusahaan, prospek usaha, dan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Ikuti Whatsapp Channel Republika