Nasional

Pembangunan PLTS 100 GWp Diproyeksikan Butuh Dua Juta Pekerja Lapangan

JAKARTA -- Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) memperkirakan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) membutuhkan sekitar dua juta pekerja lapangan. Kebutuhan tenaga kerja tersebut mencakup...

27 Oktober 2026, pukul 04:49 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA -- Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) memperkirakan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) membutuhkan sekitar dua juta pekerja lapangan. Kebutuhan tenaga kerja tersebut mencakup berbagai tahapan pembangunan, mulai dari instalasi hingga konstruksi pembangkit.

Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari mengatakan, kebutuhan pekerja lapangan menjadi bagian dari total 5,5 juta tenaga kerja yang diproyeksikan diperlukan untuk mendukung program PLTS 100 GWp. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3,5 juta pekerja dibutuhkan di sektor manufaktur.

“PLTS ini sifatnya multidisiplin. Bukan hanya membutuhkan lulusan teknik elektro, sistem energi, atau teknik tenaga listrik, tetapi juga bidang hukum, keuangan, manajemen, hingga pengembangan masyarakat,” kata Mada dalam Podcast ET Talk Institut Teknologi PLN (ITPLN), dikutip Selasa (27/10/2026).

Ia menjelaskan, pembangunan PLTS membutuhkan tenaga kerja dengan beragam keahlian. Industri energi surya tidak hanya memerlukan pekerja untuk memasang dan membangun fasilitas pembangkit, tetapi juga tenaga profesional yang mampu mengelola proyek serta memahami karakteristik investasi dan operasionalnya.

Menurut Mada, besarnya kebutuhan tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia dalam menyiapkan tenaga kerja kompeten. Apalagi, ketersediaan tenaga lokal untuk mengisi posisi manajerial tingkat menengah hingga atas masih perlu diperkuat. Dalam sejumlah proyek, investor asing masih membawa tenaga ahli sendiri untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

“Kami yakin kemampuan tenaga kerja lokal ada. Namun, jumlahnya belum banyak sehingga kemampuan tersebut belum bisa direplikasi dalam skala besar,” ujarnya.

Mada mendorong pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri mempercepat peningkatan kompetensi tenaga kerja nasional. Ia juga menekankan pentingnya alih pengetahuan dan transfer teknologi agar pekerja Indonesia mampu menguasai keahlian yang dibutuhkan dalam pengembangan PLTS.

Rektor ITPLN Iwa Garniwa mengatakan, kebutuhan tenaga kerja untuk mendukung program PLTS 100 GWp menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Terlebih, jumlah pekerja yang saat ini terserap di industri energi surya nasional baru sekitar 10 ribu orang.

“Buat sahabat energi, program PLTS 100 GWp itu butuh 5,5 juta talenta terampil dalam 3 tahun ke depan, itu challenge buat kita semua,” ujar Iwa.

Iwa menegaskan, ITPLN berupaya mengambil peran dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri energi surya. Perguruan tinggi tersebut telah menempatkan transisi energi sebagai salah satu fokus pendidikan, termasuk pengembangan teknologi PLTS dua muka.

AESI juga menjalankan program AESI Goes to Campus untuk memperkenalkan kebutuhan kompetensi industri energi surya kepada mahasiswa. Program tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai peluang pekerjaan sekaligus mempertemukan kebutuhan industri dengan kesiapan calon tenaga kerja.

Mada menilai, penyiapan tenaga kerja perlu berjalan seiring dengan pengembangan proyek PLTS dalam skala besar. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan industri menjadi penting agar kebutuhan jutaan pekerja dapat dipenuhi secara bertahap melalui pendidikan vokasi, peningkatan keterampilan, serta penguatan kompetensi tenaga kerja lokal.

Lihat di situs asli

Berita terkait