REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Jawa Tengah (Jateng), Sugiyatno, mengungkapkan, persentase tertinggi realisasi penyaluran rumah subsidi di Jateng berada di sekitar kawasan industri. Namun, tingkat permintaan belum dapat dipenuhi karena terbatasnya ketersediaan lahan.
Sugiyatno mengatakan, sepanjang 2026, realisasi penyaluran rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) oleh Himperra Jateng telah mencapai 2.786 unit. Wilayah Kendal, Pekalongan, dan Solo Raya, termasuk Sukoharjo, menjadi daerah dengan persentase realisasi tertinggi.
Baca Juga- Definisi MBR Diubah, Sekda Jateng: Pengakses Rumah Subsidi akan Semakin Banyak
- Pemprov Jateng Ajukan 2.706 Formasi Calon ASN, Nakes Jadi Posisi Terbanyak
- Pelemahan Rupiah Kerek Ongkos Produksi, BI Jateng: Pelaku Usaha Masih Optimis
Menurut Sugiyatno, permintaan rumah subsidi di wilayah-wilayah tersebut terbilang tinggi karena berada di sekitar kawasan industri. "Yang jelas dari pengembangnya adalah kawasan industri yang banyak konsumennya," ucapnya ketika diwawancara di Semarang, Ahad (28/6/2026).
Dia mengungkapkan, permintaan rumah subsidi di sekitar kawasan industri selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. "Karena kalau kita melihat, perkembangan pabrik seperti yang ada di KIK (Kawasan Industri Kendal), di area Batang, ini setelah mereka produksi, karyawannya pasti akan cari rumah. Jadi peningkatannya cukup signifikan," katanya.
Kendati demikian, Sugiyatno menyebut, pemenuhan permintaan rumah subsidi di wilayah sekitar kawasan industri masih menghadapi tantangan, terutama ketersediaan lahan. "Misalnya di Kendal, sudah susah cari lokasi di sana. Padahal peminatnya masih tinggi. Karena Kendal itu menjadi penyangganya Kota Semarang. Di Kota Semarang kan banyak kawasan industri, terutama di Semarang Barat yang berbatasan dengan Kendal," ucapnya.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika