REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Penguatan tata kelola organisasi dinilai menjadi salah satu tantangan utama bagi sanggar seni untuk menjaga keberlanjutan kegiatan sekaligus memperluas kontribusi terhadap ekonomi kreatif. Selain kualitas karya, pengelolaan organisasi, pendanaan, dan pengembangan sumber daya manusia menjadi faktor yang menentukan daya saing komunitas seni.
Sejumlah inisiatif mulai dikembangkan untuk menjawab tantangan tersebut melalui program pendampingan yang berfokus pada penguatan kapasitas organisasi sanggar. Salah satunya dilakukan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Sanggar Bakti BCA yang mencakup pembinaan tata kelola, pengelolaan pertunjukan, dokumentasi karya, serta pengembangan sumber daya manusia.
Baca Juga- Membagi Waris Tanpa Tangis: Seni Menjaga Harmoni Keluarga
- Hadir di Artjog 2026, Propan Tegaskan Komitmen Dukung Perkembangan Seni-Budaya
- MUI Ajak Seniman Turun ke Pesantren dan Masjid Suarakan Kebudayaan yang Bersih dari Korupsi
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, program tersebut disusun untuk menjawab berbagai tantangan yang masih dihadapi sanggar seni, mulai dari keterbatasan pendanaan, lemahnya pengelolaan organisasi, hingga minimnya akses terhadap pendampingan dan jejaring.
“Kami berharap sanggar yang terpilih dapat memanfaatkan program ini untuk mengembangkan potensi, memperluas peluang, dan memperkuat keberlanjutan sanggar. Pendampingan yang kami berikan diharapkan menjadi bekal bagi mereka untuk terus bertumbuh dan menjangkau audiens yang lebih luas,” ujar Hera, Kamis (23/7/2026).
Program Sanggar Bakti BCA dilaksanakan dalam dua tahap, yakni asesmen dan pemetaan komunitas seni untuk mengidentifikasi sanggar potensial, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan intensif yang mencakup penguatan kualitas artistik, kapasitas organisasi, pengelolaan pertunjukan, dokumentasi karya, serta pengembangan sumber daya manusia.
Sebanyak 10 sanggar mengikuti proses seleksi sebelum lima sanggar mempresentasikan programnya di hadapan panelis yang terdiri atas praktisi dan akademisi seni. Citra Art Studio menjadi sanggar pertama yang terpilih mengikuti program tersebut.
Dalam pelaksanaannya, BCA menggandeng Titimangsa sebagai mitra program. Pendiri Titimangsa Happy Salma mengatakan, kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas pengelolaan komunitas seni sekaligus memperluas ruang pertukaran pengetahuan antarpelaku seni.
“Kolaborasi ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi Titimangsa. Kami bertemu dengan banyak pegiat seni yang bekerja dengan penuh konsistensi dan kecintaan terhadap tradisi. Harapan kami, sanggar yang terpilih dapat menjadikan program ini sebagai kesempatan untuk bertukar pengetahuan, mengembangkan gagasan baru, dan semakin yakin melangkah dalam perjalanan berkesenian mereka,” ujar Happy Salma.
Melalui penguatan tata kelola organisasi dan kapasitas kelembagaan, sanggar seni diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan karya pertunjukan, tetapi juga memiliki model pengelolaan yang lebih profesional sehingga dapat menjaga keberlanjutan kegiatan dan memperluas kontribusinya terhadap ekonomi kreatif.
Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara