JAKARTA — Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Hari Wibowo menegaskan Indonesia tak akan gentar menghadapi sorotan Morgan Stanley Capital International terhadap pasar modal nasional. Pemerintah tetap mempercepat reformasi pasar modal dengan mempertimbangkan kepentingan nasional.
Drajad mengatakan Indonesia terbuka untuk bekerja sama dengan lembaga tersebut. Namun, hubungan itu harus dilandasi prinsip saling menghormati dan setara.
Baca Juga- PLN Group Raih Dua Penghargaan Energi Subroto 2026
- Bersiap Perang Besar, AS Siapkan Pangkalan Militer Bereaktor Nuklir Mikro
- Pemuda Tumpuan Kebangkitan Umat
“Indonesia itu selalu ingin berteman dengan semua pihak, dengan semua negara, dengan semua lembaga internasional, tapi tentu di dalam pertemanan, persahabatan, itu posisinya saling menghormati dan setara,” ujar Drajad dalam Diskusi Awal Pekan Forum Guru Besar dan Doktor INSAN CITA bertajuk “Tekanan MSCI dan Respons Prabowo: Apa Dampaknya Bagi Masyarakat?”, Senin (26/10/2026) malam.
Drajad mengakui lembaga keuangan tersebut memiliki reputasi di pasar keuangan global. Namun, ia menilai masukan dan keputusan lembaga penyedia indeks tersebut tetap perlu dicermati, terutama terkait usulan reklasifikasi Indonesia dari kategori emerging market menjadi stand-alone market.
Menurut Drajad, masukan yang disampaikan mencakup transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, penegakan hukum, dan konsistensi pelaksanaan reformasi. Pemerintah, kata dia, telah menjalankan sejumlah langkah perbaikan, termasuk membuka informasi kepemilikan saham di atas satu persen, meningkatkan batas minimum saham beredar di publik menjadi 15 persen, serta memperkuat pengawasan terhadap manipulasi harga saham.
“Presiden Prabowo dalam sidang kabinet sudah menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak takut kepada siapa pun dan tidak akan gentar,” tuturnya.
Di tengah upaya reformasi tersebut, kepercayaan investor masih menjadi tantangan bagi pasar modal Indonesia. Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia Iding Pardi mengatakan ketahanan pasar tidak hanya diukur dari pergerakan indeks saham dan arus dana asing.
Dalam pesan singkat kepada wartawan, Selasa (27/10/2026) pagi, Iding menyebut operasional bursa yang berjalan baik, pertumbuhan likuiditas transaksi, kondisi permodalan dan likuiditas anggota bursa, fundamental emiten, serta pertumbuhan jumlah investor sebagai indikator ketahanan pasar.
“Resiliensi pasar antara lain juga dilihat dari operasional yang berjalan dengan baik, likuiditas transaksi yang masih tumbuh, permodalan dan likuiditas anggota bursa masih terjaga, fundamental emiten mayoritas masih baik dan tumbuh, jumlah investor juga tumbuh,” kata Iding.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika