Oleh: Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat, Imam Nur Suharto
Setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Sumpah pemuda menjadi tonggak sejarah dalam pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Sejak 1959, tanggal 28 Oktober ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Baca Juga- Netanyahu Ingin Serang Iran Sebelum Pemilu, IDF-Mossad Terbelah
- Konsumen Harus Cermat Periksa Kualitas Air Minum
Pemuda sebagai tumpuan kebangkitan umat. Hal ini dilatari bahwa rahasia kekuatan dalam setiap kebangkitan merupakan potensi terbesar yang dimiliki para pemuda. Oleh karena itu, mengawal pembinaan, mempersiapkan regenerasi dan optimalisasi peran pemuda dalam setiap aspek gerakan adalah sebuah keniscayaan.
Di antara keistimewaan pemuda adalah ia memiliki karakter hati yang cerdas, nurani yang jernih, perasaan yang menggelora dan kemauan yang kuat, dengan karakter ini menjadi modal kekuatan yang membuat pemuda menjadi sangat cocok bagi peran operasional yang membutuhkan energi besar.
Sedangkan kepolosannya memudahkan untuk menanamkan nilai-nilai yang akan memotivasi aktivitas gerakan. Potensi kepemudaan sangat dihargai di semua lini kehidupan. Sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan umat, dan rahasia kekuatan dalam setiap kebangkitan.
Generasi muda adalah rahasia kehidupan umat dan sumber mata air kebangkitan. Sesungguhnya sejarah umat adalah sejarah para tokoh yang dilahirkannya, yang mempunyai mentalitas kuat dan hasrat yang membara. Kuat dan lemahnya umat sesungguhnya diukur dari sejauhmana kemampuan 'rahim' umat itu melahirkan tokoh-tokoh sebagai pelopor.
Sejarah membuktikan bahwa satu orang pelopor (saja) dapat membangun umat jika ia memiliki karakter kepeloporan yang benar. Sebaliknya, ia mampu menghancurkan umat jika keadaan menuntut ia harus melakukannya.
DR. Yusuf Al-Qardhawi berkata, “Apabila ingin melihat suatu negara di masa depan, maka lihatlah pemudanya hari ini.” Soekarno mengatakan: “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW, pemuda sangat berkonstribusi besar bagi tumbuh kembangnya Islam. Saat Islam tersiar, banyak pemuda yang mengembannya dan memperjuangkannya. Hal itu terjadi karena keyakinan yang mendalam terhadap akidah Islam.
Potret pemuda seperti inilah yang mendorong dan melejitkan dakwah Islam saat itu. Fakta sejarah banyak menunjukkan pemuda menjadi agen perubahan dan peradaban. Para assabiqunal awalun, mayoritas adalah pemuda. Di antaranya adalah Mush’ab bin Umair yang tersohor karena ketampanannya dan kemewahannya, setelah masuk Islam pada usia 18 tahun, ia terkenal dengan kezuhudannya dan terlibat aktif dalam menegakkan panji-panji Islam semasa hidupnya sehingga ia syahid di medan Perang Uhud.
Sa’d bin Abi Waqqash (17 tahun) pemanah hebat, termasuk dari enam orang ahlus syuro; Al-Arqam bin Abil Arqam (16 tahun) menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul SAW selama 13 tahun; Zubair bin Awwam (15 tahun) sudah menghunus pedang di jalan Allah; Zaid bin Tsabit (13 tahun) penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al-Qur’an.
Atab bin Usaid (18 tahun) diangkat oleh Rasul sebagai gubernur Makkah; Mu’adz bin Amr bin Jamuh (13 tahun) dan Mu’awwidz bin Afra (14 tahun). Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar; Thalhah bin Ubaidullah (16 tahun). Orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati demi Rasul SAW pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi SAW.
Pemuda (ilustrasi) - (ANTARA FOTO)
Ali bin Abi Thalib, masuk Islam di usia 10 tahun. Beliau pemuda pemberani, gudang ilmu, ahli hikmah, pemimpin bersahaja; Usamah bin Zaid (18 tahun) menjadi panglima, di mana anggotanya adalah para sahabat utama seperti Abu Bakar dan Umar Generasi berikutnya.
Umar bin Abdul Aziz (22 tahun) menjadi Gubernur Makkeh dan Madinah, kemudian menjadi khalifah. Dalam 2 tahun 4 bulan membawa kemakmuran dan keadilan, mengikis habis KKN; Muhammad Al-Fatih (22 tahun) menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa; Abdurrahman An-Nashir (21 tahun) memimpin Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia tampil sebagai tokoh perdamaian dan pelopor kebangkitan sains di Eropa.
Di luar itu banyak ulama dan ilmuwan Islam sudah banyak berkiprah sejak usia muda. Antara lain Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Al-Ghazali, Ibnu Taymiah, Ibnu Qoyyim, Abu Yusuf, Fakhruddin Ar-Razi. Mereka adalah teladan khairu umah. Generasi yang selalu bekerja ikhlas, kerja keras, kerja tuntas. Generasi ulul albab yang menyeimbangkan kegiatan fikir dan dzikirnya. Generasi yang selalu bersyukur, bersabar dan bertawakkal. Generasi hafidhun alim dan qowiyyun amin serta istiqomah dalam amar makruf nahi munkar. Itulah syarat khairu ummah.
Tabiat dakwah lama masanya, panjang tahapannya dan banyak tantangannya. Kafilah dakwah harus bertahan, tetap eksis dan langgeng. Ia harus mampu membawa negeri ini menuju negeri yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafuur.
Karena itu menyiapkan para pelanjut dan estafet generasi menjadi sebuah keniscayaan. Setiap kita berkewajiban memperhatikan pembinaan keluarga, menyiapkan generasi sebagai pelanjut dakwah dan perjuangan, serta pelanjut estafet genarasi di masa yang akan datang.
Pembinaan generasi muda dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan pemuda di berbagai komunitas melalui optimalisasi lembaga pendidikan; pembinaan generasi muda dari kalangan mahasiswa melalui optimalisasi potensi SDM kampus; dan pembinaan generasi muda dari kalangan profesional melalui optimalisasi potensi SDM profesional. Serta, pembinaan pemuda di berbagai komunitas, seperti pemuda lingkungan, pemuda nelayan, pemuda seni, dan lainnya.
Oleh karena itu, dalam menghadapi tantangan persoalan kontemporer yang kompleks membutuhkan bangunan yang lain dari sekedar bangunan sosial. Ia sangat membutuhkan tegaknya bangunan jiwa, akhlak, dan bangunan pribadi generasi muda dengan mentalitas kepeloporan yang benar untuk dapat mengatasi berbagai tantangan hidup di masa depan.
Semoga Allah SWT melimpahkan anugrah hidayah, taufiq dan inayah serta kekuatan kepada kita semua untuk melakukan pembinaan generasi, pewarisan dakwah dan pejuangan kepada generasi muda yang menjadi tumpuan kebangkitan umat di masa mendatang.
Ikuti Whatsapp Channel Republika