REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di balik hiruk-pikuk megapolitan Jakarta dengan keterbatasan lahan terbuka hijau, sebuah gerakan edukasi ekologis sedang bersemi dari ruang-ruang kelas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Melalui sinergi multidisiplin ilmu dan dukungan pendanaan riset nasional, para pendidik PAUD di Jakarta Barat kini mengarsitekturi transformasi lahan sempit menjadi laboratorium alam interaktif.
Dengan memadukan teknologi hidroponik vertikultur, seni bertutur cerita (storytelling), serta jurnal pelacakan tumbuh kembang tanaman (plant tracking journal), program pengabdian masyarakat ini menghadirkan terobosan strategis untuk membangun literasi ekologi, karakter kemandirian, dan ketahanan pangan keluarga sejak rentang usia paling krusial.
Menanam Benih Masa Depan di Rimba Beton Jakarta
Jakarta Barat dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman paling padat di Daerah Khusus Jakarta. Pertumbuhan fisik kota yang pesat telah mengikis area terbuka hijau hingga menyisakan proporsi tanah yang amat minim bagi fasilitas pendidikan, khususnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Di tengah kondisi lingkungan yang didominasi oleh perumahan padat, dinding semen, dan jalan sempit, tantangan besar muncul bagi para pendidik yakni bagaimana menghadirkan pembelajaran berbasis alam yang autentik dan bermakna ketika lahan fisik hampir tidak tersedia?
Pendidikan Anak Usia Dini merupakan masa keemasan (golden age) di mana perkembangan kognitif, emosional, afektif, dan psikomotorik anak berkembang pesat. Pembelajaran yang hanya mengandalkan media cetak statis atau layar digital sering kali gagal menumbuhkan kepekaan sensorik dan rasa empati anak terhadap lingkungan hidup. Padahal, pemahaman mengenai asal-usul bahan pangan, pentingnya nutrisi, serta proses biologis tumbuhan merupakan fondasi utama pembentukan karakter ekologis masyarakat modern.
Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diketuai oleh Dr N. Yeffa Afnita Apriliyani, MPd dari Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) bersinergi dengan Universitas Pertiwi menghadirkan program inovatif bertajuk 'Optimalisasi Urban Agrikultur Lahan Sempit melalui Storytelling dan Plant Tracking Journal bagi Guru PAUD di Jakarta Barat'.
Program ini dilaksanakan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Yayasan Citra Binar Rahma, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sebagai bentuk keberlanjutan dan kelanjutan strategis (sustainability) dari kemitraan yang telah dirintis sejak tahun 2025, program PkM tahun 2026 ini berfokus pada transformasi nyata area perkotaan yang terbatas menjadi sebuah laboratorium alam interaktif bagi guru dan anak usia dini. Tidak sekadar menanam sayuran, program ini merajut teknologi pertanian perkotaan dengan metodologi pedagogi modern untuk menciptakan ekosistem belajar hijau yang mandiri dan berkelanjutan.
Program pengabdian masyarakat ini dirancang tidak hanya sebagai kegiatan seremonial atau bantuan fisik semata, melainkan dirajut secara mendalam dengan kerangka kebijakan strategis di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui edukasi urban agriculture sejak usia dini, program PkM ini mengambil langkah preventif dan edukatif dari tingkat keluarga. Ketika anak-anak usia dini dilibatkan langsung dalam menanam, merawat, dan memanen sayuran hijau segar seperti bayam, pakcoy, dan kangkung di lingkungan sekolah maupun rumah, dibangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya kedaulatan pangan. Guru PAUD bertindak sebagai agen perubahan yang mentransfer nilai-nilai kemandirian pangan ini kepada orang tua murid, sehingga lahan pekarangan rumah yang sempit pun dapat dioptimalkan menjadi sumber pangan bergizi keluarga.
Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)
Program ini berkontribusi secara langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui tiga fokus utama. Dalam mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan / Zero Hunger), program ini menumbuhkan literasi gizi dan ketahanan pangan skala lokal melalui produksi sayur organik secara mandiri menggunakan metode hidroponik sederhana yang higienis dan bebas pestisida. Sementara itu, pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas / Quality Education), dihadirkan inovasi literasi terpadu melalui integrasi metode storytelling (narasi ekologi) dan pencatatan berbasis gambar maupun digital (plant tracking journal) yang memperkaya kompetensi pedagogik guru serta pengalaman belajar anak. Terakhir, sejalan dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan / Sustainable Cities and Communities), program ini mampu mengubah sudut-sudut beton kota yang terbengkalai menjadi ruang hijau produktif (green pocket), mengurangi efek pulau panas perkotaan (urban heat island), serta menciptakan estetika lingkungan sekolah yang lebih asri.
Dalam konteks kebijakan riset nasional, kegiatan pengabdian ini menginduk pada Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) pada dua bidang fokus utama. Pertama, pada Bidang Fokus Pangan (Sub-tema Teknologi Pertanian Perkotaan), program ini menerapkan modul vertikultur hidroponik yang hemat energi, hemat air, dan efisien lahan yang disesuaikan dengan mikroiklim permukiman padat Jakarta. Kedua, pada Bidang Fokus Sosial Humaniora (Penguatan Literasi dan Pendidikan Karakter), dilakukan rekayasa model pembelajaran anak usia dini berbasis proyek alam yang membentuk karakter peduli lingkungan, kesabaran, kedisiplinan, serta keterampilan berbahasa anak melalui narasi cerita berbasis ekologi.
Sinergi Bahasa, Manajemen, dan Pembelajaran Bahasa Inggris
Keunggulan utama dari program pengabdian masyarakat ini terletak pada pendekatan interdisipliner yang sangat padu, menggabungkan kepakaran Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Ketua Tim), Manajemen (Anggota 1), dan Pendidikan Bahasa Inggris (Anggota 2), serta didukung oleh mahasiswa Manajemen Ritel. Kolaborasi ilmiah lintas disiplin ini menghasilkan solusi holistik yang tidak hanya menyelesaikan masalah fisik lahan, melainkan juga menyentuh aspek literasi pedagogi, ekolinguitik, efisiensi tata kelola operasional, dan komparasi literasi global.
Pelatihan Narasi Ekologi (Storytelling)
Mengajarkan sains tanaman kepada anak usia 3–6 tahun membutuhkan pendekatan emosional, kebahasaan, dan imajinatif. Di bawah kepakaran Yeffa yang berlatar belakang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, tim PkM melatih para guru PAUD merancang cerita bertema ekologi (ecological storytelling).
Melalui konsep ekoliterasi bahasa, proses fotosintesis, penyerapan nutrisi oleh akar, dan pertumbuhan daun diterjemahkan ke dalam struktur narasi fabel dan karakter imajinatif yang kaya akan struktur sintaksis komunikatif anak. Tumbuhan hidroponik tidak lagi dipandang sebagai sekadar benda mati, melainkan "sahabat kecil" yang memiliki cerita kehidupan. Ketika guru menceritakan perjalanan sebutir benih kecil yang berjuang menjadi sayuran hijau segar, anak-anak tidak hanya menyerap pengetahuan biologis, tetapi juga mengasah keterampilan berbahasa, menambah kosa kata (vocabulary) lokal, serta menginternalisasi nilai-nilai kasih sayang terhadap alam.
Pengembangan Plant Tracking Journal Dual-Bahasa
Di bawah bimbingan Retno Ramadhina, M.Pd yang memiliki kepakaran dalam Pendidikan Bahasa Inggris, Plant Tracking Journal dikembangkan dengan sentuhan literasi multibahasa (bilingual literacy). Jurnal ini merangsang kemampuan mengenali kosa kata dasar Bahasa Inggris terkait alam dan sains bagi anak usia dini (seed, leaf, root, water, sun, growth).
Bagi guru PAUD, bimbingan ini memfasilitasi integrasi istilah-istilah sains internasional secara kontekstual, sehingga jurnal pelacakan ini tidak hanya berfungsi sebagai lembar observasi harian, melainkan juga sebagai media pengenalan bahasa asing yang menyenangkan dan tidak membebani anak.
Efisiensi Operasional dan Tata Kelola Assets
Penerapan kepakaran Manajemen oleh Tony Margiyanto Adi, MM bersama mahasiswa Manajemen Ritel memberikan landasan tata kelola yang profesional. Tim Manajemen merancang standarisasi prosedur operasional (SOP) perawatan hidroponik, pengadaan persediaan nutrisi AB Mix, serta pemeliharaan sarana vertikultur agar efisien dan berdaya guna jangka panjang.
Hasil panen sayuran hidroponik juga dikelola dengan pendekatan retail supply chain sederhana yaitu sebagian dialokasikan untuk perbaikan gizi siswa PAUD, dan sebagian lagi dikemas rapi dengan pelabelan buatan anak untuk dipasarkan terbatas kepada komunitas sekolah. Dana yang diperoleh dikelola kembali sebagai sustaining fund (dana purna-kelola) untuk keberlanjutan pembelian benih.
Pelaksanaan Kegiatan, Pendanaan BIMA DRTPM, dan Sinergi Pemangku Kepentingan
Keberhasilan program PkM ini tidak terlepas dari dukungan pendanaan penuh dari Program BIMA Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026. Program ini didasari oleh Kontrak Pengabdian Nomor 0689/LL3/DT.06.01/2026 tertanggal 27 April 2026, dengan durasi pelaksanaan selama satu tahun anggaran penuh dari bulan April hingga Desember 2026 mendatang.
Puncak kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan serah terima aset instalasi urban agrikultur dilaksanakan secara khidmat dan menyenangkan pada tanggal 28 Juli 2026 di PKBM Yayasan Citra Binar Rahma, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan perguruan tinggi, pembina yayasan, penilik sekolah, HIMPAUDI, serta pengelola sekolah.
Rangkaian kegiatan PkM diawali dengan tahap pra-kegiatan intensif yang melibatkan mahasiswa dalam merancang sistem instalasi vertikultur, menyusun draft buku panduan storytelling, serta membuat desain plant tracking journal. Kegiatan tersebut dihadiri oleh pejabat institusi Unindra dan jajaran pimpinan daerah serta tokoh pendidikan setempat, antara lain Dr Akhmad Kosasih, selaku Koordinator Pengabdian Kepada Masyarakat LRPM Universitas Indraprasta PGRI, Dr Cipto Djuhartono, selaku Koordinator Riset yang hadir mewakili Kepala Lembaga Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (LRPM) Unindra, Bunda Dewi (Rd. Dewi Rachmadi, MPd), selaku Pembina Yayasan PAUD Jakarta Barat yang memberikan arahan strategis mengenai pentingnya pendidikan lingkungan hidup, Eko Jadmiko, selaku Penilik PAUD/Dikmas Kecamatan Kebon Jeruk, Rden Indra Rachadian, SE, MAP, selaku Kepala Sekolah PKBM Yayasan Citra Binar Rahma, Novi Wahyumi, SPd (Kepala PAUD) dan Syuriyah, SPd. (Wakil Kepala PAUD Yayasan Citra Binar Rahma), Islawati, SPd, selaku Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Kecamatan Kebon Jeruk, dan Hj Junaedah, selaku Ketua Ranting HIMPAUDI Duri Kepa.
Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan komitmen bersama dalam mengawal sustainabilitas program agar manfaatnya tidak berhenti saat masa kontrak pengabdian berakhir, melainkan menjadi gerakan yang terus direplikasi di wilayah lain.
Dampak dan Transformasi Pedagogis: Dari Dinding Semen Menuju Laboratorium Alam
Dampak nyata dari pelaksanaan program PkM ini mulai dirasakan secara signifikan oleh para guru, siswa, dan pengelola lembaga pendidikan mitra. Transformasi yang terjadi tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga menyentuh aspek filosofis dan metodologis pembelajaran.
Sebelum adanya program ini, guru PAUD di PKBM Citra Binar Rahma menghadapi keterbatasan media pembelajaran luar ruangan (outdoor learning). Sebagian besar pembelajaran sains dilaksanakan secara verbalistik. Melalui pelatihan storytelling ekologi dan pengoperasian Plant Tracking Journal, kompetensi guru meningkat pesat. Guru kini mampu menyusun skenario pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) yang menyenangkan dan kontekstual.
Guru tidak lagi canggung menjelaskan konsep pertumbuhan tanaman, pH air, atau pencahayaan matahari. Penggunaan digital tracking journal juga melatih literasi digital para guru dalam mencatat data pertumbuhan tanaman secara sistematis, yang kelak dapat diadaptasi untuk mengevaluasi perkembangan anak didik.
Bagi anak-anak usia dini, keberadaan kebun hidroponik vertikal mengubah persepsi mereka terhadap lingkungan. Setiap pagi, sebelum masuk kelas, anak-anak secara antusias mengecek instalasi hidroponik mereka. Mereka belajar memegang benih dengan lembut, mengamati akar yang tumbuh di dalam air, serta mencatat perubahan daun.
Proses ini menanamkan karakter kesabaran (bahwa tanaman membutuhkan waktu untuk tumbuh), tanggung jawab (menyiram dan mengecek nutrisi), serta rasa syukur atas nikmat Tuhan. Lebih dari itu, anak-anak yang sebelumnya enggan mengonsumsi sayur kini menunjukkan ketertarikan tinggi untuk mencicipi hasil panen sayuran yang mereka rawat sendiri. Ini merupakan langkah konkret dalam mengatasi permasalahan gizi kurang dan pola makan tidak sehat pada anak-anak urban.
Penerapan prinsip-prinsip Manajemen Ritel yang dibawa oleh tim pengabdi Unindra memberikan nilai tambah yang unik. Pengelola PKBM dilatih dalam merencanakan pengadaan bahan baku hidroponik (seperti media tanam rockwool, benih unggul, dan nutrisi) secara efisien dengan biaya minimum.
Selain itu, hasil panen yang berlimpah akan dikemas secara rapi dalam wadah ramah lingkungan dengan label brand buatan anak-anak PAUD. Sebagian hasil panen dimanfaatkan untuk program gizi anak, dan sebagian lainnya dipasarkan secara terbatas kepada orang tua murid dan warga sekitar melalui pameran mini sekolah. Hal ini tidak hanya memberikan edukasi kewirausahaan (entrepreneurship) sejak dini, melainkan juga menghasilkan dana purna-kelola (sustaining fund) kecil untuk membeli benih dan nutrisi periode berikutnya.
Untuk menjamin kelangsungan program hingga melampaui masa kontrak Desember 2026, tim PkM bersama mitra telah menyusun tiga skenario keberlanjutan: Pembentukan Tim Kader Eco-PAUD, Penyusunan Modul Panduan & Buku Cerita Ber-ISBN, serta Jejaring HIMPAUDI untuk Replikasi Antar-Lembaga.
Menepis Sempitnya Lahan, Melejitkan Potensi Generasi Emas
Program ini membuktikan bahwa edukasi ketahanan pangan dan lingkungan hidup tidak harus menunggu ketersediaan hektaran sawah di pedesaan. Di tengah kepungan dinding beton Jakarta, benih-benih kemandirian, karakter ekologis, dan literasi sains dapat tumbuh subur dari jemari kecil anak-anak PAUD dan bimbingan penuh kasih para guru.
"Keterbatasan lahan bukanlah penghalang bagi tumbuhnya cita-cita besar. Dari ruang sempit di dinding sekolah, kita sedang menanam benih karakter, literasi, dan kedaulatan pangan bangsa untuk masa depan Indonesia," ujar Yeffa.
Ikuti Whatsapp Channel Republika