REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cerita kematian Sutrimo, eks asisten rumah tangga (ART) Jampidsus Febrie Adriansyah masih memunculkan tanda tanya. Apakah Sutrimo meninggal karena hal wajar atau memang dibunuh?
Polisi telah menaikan kasus ini ke penyidikan dan akan membongkar jenazah Sutrimo yang telah dikuburkan. Penyidik juga akan melakukan ekshumasi untuk mencari tahu penyebab pasti kematian Sutrimo.
Baca Juga- Ini Deretan Kejanggalan Kematian Eks ART Jampidsus Sutrimo Versi Keluarga, Ada Dokumen Dihilangkan
- Puslabfor Turun Tangan Usut Kejanggalan Kematian Sutrimo, ART Eks Jampidsus Febrie
- Sutrimo Benar 'Karumga' Eks Jampidsus, Ini Kronologi Kematiannya
Di tengah proses penyidikan itu, pengacara dari pihak keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengungkapkan fakta-fakta sebelum dan sesudah kematian korban.Aan bahkan menceritakan dari mulai kediaman Jampidsus Febrie yang digeledah kepolisian.
Menurut Aan, setelah penggeledahan itu Sutrimo sempat diminta pulang dulu ke Banyumas oleh Febrie Ardiansyah. “Ceritanya kepada keluarga disuruh pulang. Beberapa (pekerja) memang ada yang disuruh pulang selain Pak Sutrimo,” ujarnya, Senin (10/8/2026).
Namun Febrie kemudian meminta Sutrimo untuk kembali lagi ke Jakarta. “Dia pulang (ke Jakarta) memang ditelepon sama Pak Febrie, pengakuan dari salah satu saksi. Intinya bosnya telepon, katanya, ‘Kamu pulang saja. Karena aku kalau mau cerita sama siapa?’,” kata Aan menyitir permintaan Febrie kepada Sutrimo.
Aan mengungkapkan, saat itu Sutrimo menyampaikan kepada Febrie bahwa dia tidak punya uang. “Lalu disampaikan (oleh Febrie), ‘Tiketmu sudah disiapkan, uang sudah ditransfer, lalu kamu juga ditemani oleh dua orang nanti dari Stasiun Purwokerto’,” ucapnya.
Setelah itu tidak dijelaskan lebih detail bagaimana komunikasi Febrie dan Sutrimo.
Namun Aan mengatakan, saat ini dia tengah berusaha menyusun kronologi kepergian Sutrimo kembali ke Jakarta. Karena keluarga tak mengingat tanggal kepergian Sutrimo.
“Pihak keluarga kemarin mengingat-ngingat dari WA (WhatsApp), tapi ternyata di HP-nya Ibu Anis (adik Sutrimo) entah kenapa WA yang tersisa antara komunikasi dengan Pak Sutrimo itu hanya tanggal 19 sampai 23 Juli. Data yang sebelumnya hilang. Nah ini makanya lagi dipulihkan oleh kepolisian,” ujar Aan.
Namun Aan dapat memastikan bahwa Sutrimo sudah kembali ke Jakarta sebelum 19 Juli 2026. “Karena saya lihat WA-nya mulai tanggal 19 Juli, Pak Sutrimo nunjukkin sedang dinas, sedang berjaga di rumah Pak Febrie,” katanya.
Tim gabungan Kortastipidkor Polri dan Polda Metro Jaya diketahui menggeledah sebuah rumah mewah di Jalan Parahyangan, Sentul City, Bogor, pada Rabu malam, pada 8 Juli 2026.
Polisi menyita barang bukti senilai total Rp476 miliar, termasuk 74 kg emas batangan dan uang asing dalam brankas. Diketahui belakangan rumah itu merupakan milik Febrie.
Tak mengeluh sakit
Berdasarkan riwayat percakapannya dengan adiknya, Anis, sejak kembali ke Jakarta Sutrimo tidak pernah mengeluh sakit. Menurut Aan, Sutrimo, yang sudah bercerai dengan istrinya, rajin megirimkan foto atau video aktivitas pekerjaannya di kediaman Febrie.
“Termasuk yang tanggal 23 (Juli 2026), dia itu terakhir jam 03.18 WIB mengirim foto makanan, ayam goreng, lalapan. Terus jam 04.00 WIB, dia ngirim foto lagi duduk di seberang rumahnya Pak FA,” kata Aan.
Anis baru membalas pesan instan WA Sutrimo sekitar pukul 06.00 WIB. “Pesan itu dibaca, tapi tidak dibalas,” ujar Aan.
Kemudian sekitar pukul 08.00 WIB, ponsel Anis sempat ditelepon beberapa kali. Namun telepon tersebut tak sempat diangkat. Penelepon adalah Sutrimo.
“Telepon baru diangkat jam 08.30 WIB. Ternyata yang menelepon itu orang yang mengaku temannya Pak Sutrimo. Dia mengabarkan bahwa Pak Sutrimo sudah tidak ada,” ungkap Aan.
Lihat postingan ini di Instagram
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika