JAKARTA — Hubungan antara Singapura dan Indonesia nampaknya tengah diuji. Berbagai isu menggelayuti kedua negara di sepanjang Oktober 2026 ini dan menimbulkan gesekan, mulai dari polemik kabut asap lintas batas, tuduhan manipulasi pasar saham, hingga keputusan mendadak Indonesia memangkas ekspor gas alam.
Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyoroti respons pemerintah yang cenderung emosional dalam menanggapi polemik yang bergulir belakangan ini dengan negara tetangga. Sikap emosional dinilai kurang tepat dalam menjaga kestabilan hubungan diplomatik kawasan.
Baca Juga- Pasokan Gas RI Berkurang, Singapura Pastikan Stok Energi Aman
- Akademisi Nilai Pengurangan Ekspor Gas ke Singapura Perkuat Pasokan Domestik
- Singapura Setujui Impor 1,3 GW Listrik Rendah Karbon dari Malaysia
"Gesekan antarnegara sering kali terjadi, termasuk akhir-akhir ini antara Indonesia dengan Singapura dan Malaysia. Yang penting, para pemimpin kita harus menghadapi dengan kepala dingin, tidak boleh emosional seperti yang ditunjukkan oleh pemerintah kita, yang berpotensi menggerus reputasi dan leadership kita di kawasan," kata Wijayanto saat dihubungi Republika, Selasa (27/10/2026).
Menurut pandangan Wijayanto, perselisihan yang menghangat antara Singapura dan Indonesia bisa memberi dampak terhadap pasar. Dampak tersebut di antaranya dapat memengaruhi sisi perdagangan (trade), turisme, maupun investasi.
"Pasti akan ada dampak karena kedua negara merupakan partner dagang dan investasi yang sangat penting, tetapi sangat sementara. Saya yakin ini akan segera kembali normal tidak lama lagi," tuturnya.
Wijayanto menambahkan, di balik polemik yang bergulir di antara kedua negara, sebenarnya ada kekuatan yang mesti disadari oleh Indonesia maupun Singapura. Sebab, kedua negara merupakan tetangga yang sama-sama memiliki kelebihan yang bisa dimanfaatkan untuk saling menguntungkan.
"Kedua negara adalah natural partner, karena berdekatan dan mempunyai kekuatan dan kekurangan yang saling mengisi. Sangat disayangkan jika Indonesia dan Singapura tidak dapat mewujudkan potensi kerja sama yang luar biasa dalam berbagai aspek. Tentunya, prinsip saling menghargai harus dipegang oleh kedua belah pihak," katanya.
Ikuti Whatsapp Channel Republika