Nasional

Pengaruh Jokowi Dinilai Masih Kuat hingga 2029 di Tengah Kasus Ijazah

Pengaruh Jokowi dalam politik Indonesia tetap kuat meski tak lagi menjabat dan diganggu dengan kasus dugaan ijazah palsu.

6 November 2026, pukul 18:20 WIB · dibaca 0 kali

Nasional Politik Pengaruh Jokowi Dinilai Masih Kuat hingga 2029 di Tengah Kasus Ijazah CNN Indonesia Sabtu, 07 Nov 2026 01:20 WIB Bagikan: URL berhasil disalin Jokowi dinilai masih punya pengaruh di Pemilu 2029. (CNNIndonesia/Adi ibrahim) Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengaruh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dinilai masih kuat dalam peta politik nasional meski tak lagi menjabat sebagai kepala negara hingga diganggu oleh kasus dugaan ijazah palsu.

Pengamat politik Iyyas Subiakto menilai pengaruh Jokowi bahkan masih sangat signifikan terhadap perjalanan politik putra sulungnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurut dia, pengaruh tersebut berpotensi semakin besar apabila Jokowi mengambil posisi sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sangat besar apalagi kalau pak Jokowi akan menjadi ketum PSI," kata Iyyas dalam keterangannya, Jumat (6/11).

Lihat Juga :UGM Buka Suara soal Jokowi Pamer Ijazah di Sidang Roy Suryo

Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan pandangan Iyyas mengenai kemungkinan perkembangan politik ke depan, bukan konfirmasi bahwa Jokowi akan memimpin PSI.

Iyyas menyebut keterlibatan Jokowi dalam kepemimpinan partai, jika benar terjadi, dapat mempengaruhi dinamika persaingan politik nasional.

Sebab, pengalaman dan jaringan politik yang dimiliki Jokowi selama menjabat presiden juga dinilai masih relevan dalam proses regenerasi kepemimpinan.

Iyyas pun melihat Pemilu 2029 sebagai momentum penting bagi transisi antargenerasi sekaligus transformasi politik Indonesia.

"Ini momentum masa transisi antar generasi dan transformasi," ujarnya.

Lihat Juga :Bareskrim Jadikan Putusan MK-MA Referensi Usut Aduan Ijazah Gibran

Menurut Iyyas, pergantian generasi kepemimpinan semestinya tidak sekadar menjadi perpindahan figur, tetapi juga diikuti pembaruan dalam penyelenggaraan negara. Hal itu diperlukan agar kepentingan masyarakat tetap menjadi prioritas.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar kekuasaan yang diperoleh melalui pemilu tidak digunakan untuk mengutamakan kepentingan kelompok atau golongan tertentu.

"Setelah menang pemilu atau Pilpres mereka adalah pegawai rakyat," ucap Iyyas.

Dengan demikian, besarnya pengaruh Jokowi dalam politik mendatang tidak hanya berkaitan dengan posisi dan jaringan politik yang dimilikinya, tetapi juga bagaimana pengaruh tersebut akan berperan dalam proses regenerasi kepemimpinan menuju 2029.

Dinamika konsolidasi partai politik, respons masyarakat, serta kinerja para figur yang mendapat dukungan Jokowi akan menjadi faktor yang turut menentukan seberapa besar pengaruh mantan presiden tersebut dalam peta politik nasional.

Lihat Juga :Di Sidang Dokter Tifa, Jokowi Ungkap Sakit Hati soal Makam Ibunya

(dis/dal) Bagikan: URL berhasil disalin
Lihat di situs asli

Berita terkait