Nasional

Perang AI Memanas, China Andalkan Big Data 1,4 M Penduduk, Tantang Silicon Valley AS?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah memanasnya persaingan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan China, Beijing bersiap menggelar salah satu forum kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia. Pemerintah China mengumumkan akan...

17 Juni 2026, pukul 22:29 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah memanasnya persaingan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan China, Beijing bersiap menggelar salah satu forum kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia. Pemerintah China mengumumkan akan menjadi tuan rumah World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 dan High-Level Meeting on Global AI Governance di Shanghai pada Juli mendatang.

Langkah tersebut dipandang bukan sekadar penyelenggaraan konferensi teknologi biasa. Di tengah perlombaan menuju Artificial General Intelligence (AGI), pengembangan robot humanoid, perebutan pasar chip semikonduktor, hingga modernisasi militer berbasis AI, WAIC diproyeksikan menjadi panggung bagi China untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai kekuatan utama dalam ekosistem kecerdasan buatan global.

Baca Juga

"China berharap dapat menjadikan konferensi ini sebagai kesempatan untuk semakin memperkuat kerja sama internasional di bidang kecerdasan buatan dengan semua pihak," kata Wakil Kepala Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) China, Zhou Haibing, dalam konferensi pers, Rabu (18/6).

Menurut Zhou, tata kelola AI merupakan isu yang akan menentukan masa depan umat manusia dan membutuhkan kerja sama lintas negara. China, kata dia, akan terus mendorong multilateralisme, keterbukaan, dan inklusivitas dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.

Pernyataan tersebut muncul ketika rivalitas teknologi antara Washington dan Beijing semakin tajam. Dalam beberapa tahun terakhir, AS memperketat pembatasan ekspor chip canggih dan peralatan semikonduktor ke China. Sebaliknya, Beijing mempercepat investasi besar-besaran untuk membangun kemandirian teknologi nasional, termasuk dalam pengembangan model AI generatif, pusat data, komputasi awan, dan robotika.

Bagi banyak analis, perang AI saat ini telah menjadi babak baru dari kompetisi geopolitik abad ke-21. Jika sebelumnya persaingan negara besar ditentukan oleh kekuatan militer dan sumber daya energi, kini penguasaan algoritma, data, komputasi, dan chip menjadi faktor penentu kekuatan nasional.

China sendiri menunjukkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah perusahaan teknologi negara itu berhasil meluncurkan model AI generatif yang mulai menyaingi produk-produk Silicon Valley. Selain itu, China juga memimpin dalam pengembangan robot humanoid industri yang diproyeksikan menjadi tulang punggung manufaktur masa depan.

Namun, kekuatan China dalam perlombaan AI tidak hanya bertumpu pada investasi besar atau dukungan negara. Salah satu keunggulan yang sulit ditandingi negara lain adalah skala data yang dimilikinya. Dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, China memiliki salah satu sumber data terbesar di dunia, mulai dari transaksi digital, aktivitas e-commerce, layanan transportasi, media sosial, hingga penggunaan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan.

Dalam era AI, data sering disebut sebagai "bahan bakar baru" yang menentukan kemampuan suatu model untuk belajar, mengenali pola, dan menghasilkan keputusan yang semakin akurat. Semakin besar dan beragam data yang dimiliki, semakin besar pula peluang suatu negara mengembangkan sistem AI yang kompetitif di tingkat global.

Keunggulan inilah yang membuat banyak analis menilai China memiliki modal strategis untuk bersaing dengan Amerika Serikat dalam perlombaan menuju Artificial General Intelligence (AGI), yakni kecerdasan buatan yang mampu menjalankan berbagai tugas intelektual layaknya manusia. Perlombaan menuju AGI kini dipandang sebagai tujuan utama industri teknologi global karena berpotensi mengubah hampir seluruh sektor kehidupan manusia.

 

Loading... sumber : Xinhua
Lihat di situs asli

Berita terkait