REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat kehilangan setidaknya 45 pesawat nirawak (drone) pengintai dan penyerang MQ-9 Reaper selama konflik dengan Iran. Demikian dilaporkan The Washington Post pada Kamis, mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya.
Menurut surat kabar tersebut, jumlah drone yang hilang mencakup sekitar 25 persen dari armada militer AS, dengan potensi kerugian bagi pembayar pajak yang nilainya lebih dari 1,3 miliar dolar AS.
Baca Juga- Iran Masih Simpan 75 Persen dari Total Stok Rudal, Siap Perang dengan AS Hingga Trump Lengser
- CIA Ragukan Laporan Israel Trump akan Dibunuh Iran
- Kenali MTick, Penanda Produk yang Dirancang untuk Perempuan Menopause
Seorang pejabat AS, yang dikutip oleh surat kabar tersebut, mengatakan bahwa tidak semua Reaper ditembak jatuh. Beberapa di antaranya jatuh akibat kegagalan pada sambungan komunikasi.
Reaper digunakan sebagai aset pengumpulan intelijen dan memiliki peran sekunder untuk menyerang target yang muncul secara dinamis (dynamic execution targets).
Karena memiliki kemampuan terbang lama, sensor jarak jauh, sistem komunikasi multimode, dan persenjataan presisi, pesawat ini memiliki kemampuan unik untuk melakukan serangan maupun pengintaian terhadap target bernilai tinggi.
Drone Reaper mulai dioperasikan oleh AS pada tahun 2007 dan telah menjadi aset penting bagi operasi kontra-terorisme Amerika di Timur Tengah serta zona konflik lainnya seperti Afghanistan dan Irak.
Lihat postingan ini di Instagram
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika