Nasional

Perkuat Aksi Nyata untuk Pemuliaan Lingkungan Hidup

REPUBLIKA.CO.ID, MUI telah berikhtiar menyelenggarakan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII. Liputan media yang luas baik dalam maupun luar negeri. Pemberitaan yang bersifat mendukung maupun melakukan kritik yang konstruktif. Bahkan...

12 Agustus 2026, pukul 08:05 WIB · dibaca 0 kali

Oleh: Sekretaris Jenderal MUI Amirsyah Tambunan

REPUBLIKA.CO.ID, MUI telah berikhtiar menyelenggarakan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII. Liputan media yang luas baik dalam maupun luar negeri. Pemberitaan yang bersifat mendukung maupun melakukan kritik yang konstruktif. Bahkan perlu memberikan klarifikasi atas tulisan Toto Izul Fatah selaku Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA.

Karena ia menaruh perhatian kepada Kongres Umat Islam VIII. Menurutnya forum besar dan strategis diselenggarakan MUI ini melibatkan 87 organisasi Islam beserta MUI se Indonesia peserta 500 orang dari berbagai latar belakang ormas se-Indonesia dengan tema: “Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat.”

Baca Juga

Namun, MUI menepis pandangan Toto Izul Fatah yang mempertanyakan kongres tidak membahas isu lingkungan; pertama, di mana posisi alam dan lingkungan hidup dalam pembicaraan besar umat Islam?; kedua, apakah bangsa bisa disebut berdaulat apabila hutan terus menyusut, sungai tercemar, udara memburuk, laut rusak, sumber air menghilang, dan rakyat semakin sering menjadi korban banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan serta cuaca ekstrem?

Ketiga, apakah negara bisa disebut kuat apabila setiap tahun anggaran, energi dan perhatian pemerintah terus terkuras untuk menangani bencana yang sebagian kesalahan manusia dalam mengelola alam?

Menurut Amisyah bahwa Kongres Umat Islam Indonesia VIII selain membicarakan politik, ekonomi, hukum, pendidikan, pangan dan geopolitik juga soal pemuliaan lingkungan hidup. Ini bagian dari perhatian yang serius terhadap krisis lingkungan seperti yang disampaikan Toto Izul Fatah.

MUI telah memberikan kepada keselamatan manusia, keadilan sosial, ketahanan pangan, kesehatan, ekonomi, bahkan kedaulatan negara. Amirsyah juga mengapresiasi bahwa berbagai pihak memberikan perhatian terhadap KUII VIII yang besar di media diantaranya kritik dan saran Titok atas permasalahan lingkungan; pertama, data kebencanaan menunjukkan bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman ekologis yang tidak ringan. BNPB mencatat sebanyak 3.472 kejadian bencana sepanjang 2024 ; kedua,

dari jumlah tersebut, sebanyak 3.449 kejadian merupakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan.

Artinya, hampir seluruh bencana yang terjadi berkaitan dengan cuaca, air, iklim dan kondisi lingkungan. BNPB bahkan mencatat, dalam tahun tersebut rata-rata terjadi sekitar 10 bencana setiap hari, dan bencana menjangkau sekitar 88 persen wilayah Indonesia; ketiga, data Informasi Bencana Indonesia (2025) mencatat sedikitnya 1.768 kejadian yang telah terlaporkan.

Pada Desember 2025 saja, BNPB mencatat 154 banjir, 73 cuaca ekstrem, 15 tanah longsor, serta dua kejadian gelombang pasang dan abrasi. Tentu data-data ini telah menjadi perhatian serius MUI melalui LPLH SDA MUI. Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia, sebuah lembaga di bawah MUI yang dibentuk berdasarkan Munas VIII MUI pada Juli 2010. Lembaga ini bertujuan meningkatkan kesadaran umat Islam tentang pentingnya pelestarian alam dan pengelolaan lingkungan berdasarkan ajaran Islam.

 

Loading... Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Lihat di situs asli

Berita terkait