REPUBLIKA.CO.ID, BENER MERIAH -- Jalan yang putus mengubah perjalanan warga Buntul Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Jalur yang sebelumnya menghubungkan mereka dengan Pondok Baru dan pusat kabupaten kini tak lagi bisa dilalui secara langsung. Untuk mencapai tujuan, warga harus memutar dengan waktu tempuh tambahan hingga sekitar dua jam.
Kerusakan itu bukan hanya persoalan hambatan untuk perjalanan. Bagi warga yang menggantungkan penghidupan pada perkebunan, jalan menjadi penentu kelancaran membawa hasil panen ke pasar. Kopi, salah satu komoditas utama kawasan tersebut, ikut menghadapi hambatan distribusi.
Baca Juga- Bupati Jeje Tegaskan Pemkab Bandung Barat Terus Membersamai Penyintas Korban Longsor Pasirlangu
- Longsor Gerus Jalan di Ciamis, Akses Penghubung Kawali-Cisaga Terputus
- Badan Geologi Ingatkan Potensi Gerakan Tanah Tinggi Pemicu Longsor di 11 Provinsi
“Kalau jualan kan susah ini, karena jalannya sudah putus kayak gini, enggak bisa lagi ditembus,” kata Habibulloh, anggota Petuah atau Petue, lembaga tingkat desa di Kampung Buntul Gayo, saat ditemui pada Kamis (15/10/2026) lalu.
Menurut Habibulloh, warga harus menggunakan jalur alternatif untuk menuju Pondok Baru maupun pusat kabupaten. Perjalanan yang lebih panjang menambah beban pengangkutan hasil perkebunan, sementara harga jual kopi di kawasan kebun disebut lebih rendah dibandingkan di pusat perdagangan.
Dalam dialog dengan warga, harga kopi di kawasan perkebunan disebut berkisar Rp 18.000 hingga Rp 19.000 per satuan penjualan lokal. Di Pondok Baru, harga untuk satuan yang dibandingkan warga dapat mencapai sekitar Rp 23.000. Perbedaan itu antara lain dikaitkan dengan tambahan biaya transportasi dan tahapan distribusi akibat akses yang terputus.
Kondisi tersebut membuat pemulihan jalan dan jembatan menjadi kebutuhan mendesak bagi warga. Selain kopi, akses yang memadai diperlukan untuk mengangkut komoditas lain, seperti cabai dan alpukat, serta memudahkan perjalanan menuju layanan pendidikan, kesehatan, dan pusat perdagangan.
Dampak bencana juga terasa pada masa awal kejadian. Habibulloh mengatakan warga sempat terisolasi selama sekitar satu setengah bulan akibat kerusakan akses transportasi dan terganggunya pasokan listrik. Sebagian warga mengungsi ke gedung serbaguna selama kurang lebih 20 hari sebelum kembali ke rumah masing-masing.
Meski warga telah kembali beraktivitas, akses jalan yang terputus masih menjadi persoalan. Mereka berharap jembatan dapat dipulihkan lebih dahulu agar kendaraan kembali memiliki jalur penghubung yang dapat digunakan.
“Kami berharap dengan kedatangan Bapak-bapak ini, semoga bisa dibantu untuk perbaikan jalan,” ujar Habibulloh.
Aspirasi tersebut disampaikan saat Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) bersama pemerintah daerah meninjau kondisi jalan penghubung enam desa di kawasan Buntul Gayo pada Kamis. Peninjauan itu juga membahas kebutuhan perbaikan infrastruktur yang rusak akibat bencana hidrometeorologi.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika