BELGRADE — Dua kekalahan politik dalam waktu berdekatan di Serbia dan Brasil menandai tekanan terhadap sejumlah tokoh sayap kanan yang memiliki hubungan erat dengan Israel. Di Serbia, gerakan mahasiswa berhasil mengakhiri dominasi politik Aleksandar Vucic selama 14 tahun. Sementara di Brasil, Presiden Luiz Inacio Lula da Silva mengalahkan politikus sayap kanan Flavio Bolsonaro dalam pemilihan presiden putaran kedua.
Hasil kedua pemilu itu menjadi sorotan karena berlangsung di tengah menguatnya polarisasi politik internasional, termasuk perdebatan mengenai hubungan dengan Israel di tengah perang Gaza. Kekalahan kedua tokoh tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan domestik. Korupsi, tata kelola pemerintahan, demokrasi, dan mobilisasi pemilih menjadi faktor penting yang membentuk hasil pemilu.
Di Serbia, Komisi Pemilihan Umum mencatat daftar kandidat yang didukung mahasiswa meraih 52,71 persen suara atau 140 kursi parlemen berdasarkan hasil awal yang diumumkan pada 26 Oktober 2026. Sementara itu, koalisi pimpinan Partai Progresif Serbia (SNS) yang diasosiasikan dengan Vucic memperoleh 39,17 persen suara atau 104 kursi.
Vucic mengakui kekalahan tersebut. Hasil itu menjadi pukulan besar bagi pemimpin yang mendominasi politik Serbia sejak 2014, baik sebagai perdana menteri maupun presiden. Gerakan mahasiswa yang mengalahkan kubu Vucic tumbuh dari gelombang demonstrasi setelah kanopi stasiun kereta di Novi Sad runtuh pada November 2024 dan menewaskan 16 orang. Peristiwa itu memicu kemarahan publik terhadap dugaan korupsi, kelalaian, dan buruknya akuntabilitas pemerintah.
Selama hampir dua tahun, mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil menggelar aksi untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah. Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi kekuatan politik yang mampu menantang partai penguasa melalui pemilu.
Kekalahan Vucic juga memiliki dimensi geopolitik. Pemerintahannya mempertahankan hubungan dengan Israel, termasuk kerja sama pertahanan yang semakin erat. Pada April 2026, Serbia dan Israel meluncurkan dialog strategis bilateral. Hubungan kedua negara juga mencakup perdagangan persenjataan dan pengembangan industri pertahanan. Pada September 2026, fasilitas perakitan pesawat nirawak yang dirancang Israel dibuka di Serbia, memperdalam kerja sama kedua negara.
Para pendukung Students List berkumpul di Alun-alun Slavija untuk merayakan kemenangan mereka, sehari setelah pemilihan umum parlemen sela di Serbia, di Beograd pada 26 Oktober 2026. - (MILOS MILANOVIC / AFP)
Al Jazeera melaporkan bahwa pendekatan Serbia terhadap Israel selama beberapa tahun terakhir semakin menonjol dalam bidang keamanan dan pertahanan, meskipun Belgrade tetap berupaya menjaga hubungan diplomatik dengan negara-negara lain, termasuk negara-negara Muslim. Kekalahan Vucic membuka kemungkinan evaluasi terhadap sejumlah kebijakan pemerintahannya, termasuk kerja sama strategis dengan Israel.
Brasil: Lula Kalahkan Putra Bolsonaro...
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika