REPUBLIKA.CO.ID, MAJALENGKA -- Tren bencana hidrometeorologi di Kabupaten Majalengka menunjukkan penurunan signifikan seiring dengan datangnya musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka kini mulai mengalihkan fokus pada kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan.
Penata Penanggulangan Bencana Ahli Pertama di Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Majalengka, Wawan Suryawan, mengungkapkan, sepanjang awal hingga pertengahan Juni 2026, hanya tercatat dua peristiwa bencana di wilayahnya. "Rinciannya adalah satu kejadian cuaca ekstrem dan satu kejadian non-alam berupa kebakaran gedung serta permukiman," ujar Wawan, Selasa (16/6/2026).
Baca Juga- PJT II Siapkan Mitigasi Kekeringan Jelang Musim Kemarau
- Pemprov Jabar Siapkan Langkah Mitigasi Hadapi Krisis Sampah dan Kemarau Panjang
- Orang Tua Murid Adukan Disdik Jabar ke Ombudsman Soal Dugaan Maladministrasi SPMB dan PCMB
Angka itu merosot tajam dibanding bulan sebelumnya. Pada Mei 2026, BPBD Majalengka mencatat ada tujuh laporan kejadian, yang didominasi oleh bencana alam sebanyak lima kasus (dua peristiwa longsor dan tiga cuaca ekstrem), serta dua kejadian non-alam.
Wawan menambahkan, penurunan intensitas bencana itu sejalan dengan berakhirnya status siaga bencana hidrometeorologi pada 30 April 2026 lalu berdasarkan surat ketetapan Bupati. Saat ini, pemerintah daerah tengah menggodok regulasi baru untuk mengantisipasi musim kemarau.
"Untuk penetapan status siaga darurat kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini sedang dalam proses, dan akan segera ditetapkan oleh Bupati Majalengka," terangnya.
Sebagai langkah awal, BPBD telah memetakan 98 desa dan kelurahan yang tersebar di 18 kecamatan sebagai wilayah rawan kekeringan dan krisis air bersih. Mayoritas daerah terdampak berada di kawasan dataran rendah Majalengka bagian utara, meski beberapa titik di dataran tinggi bagian selatan juga masuk dalam kategori rawan kekeringan.
Ikuti Whatsapp Channel Republika